Komunitas Menulis Siswa

Pucuk Mampauh

Ade Wirawan
SMA Muhammadiyah Sungai Bakau

Pada suatu hari di sebuah pedesaan yang terletak diantara rimba belantara. Di hutan Kalimantan Barat yang begitu hijau, tanahnya subur, dan di sana hiduplah beraneka hewan dan tumbuhan yang indah untuk dipandang bagi siapa pun yang memandangnya. Di tanah subur itu hiduplah segolongan masyarakat yang sarat dan kental akan kebudayaan dan adat istiadat. Di tempat itu hiduplah seorang pemuda tampan, rambutnya ikal berkilauan, dadanya bidang, rambutnya kuning langsat, tinggi, dan kekar serta gagah berani yang bernama Mampauh.

Pada suatu hari yang cerah, embun yang sejuk, diantara kicauan burung-burung yang bersaut-sautan seakan menyambut cerahnya pagi, terbangunlah sang pemuda dari tidurnya. Setelah terbangun ia duduk sejenak di pinggir rumahnya yang terbuat dari beberapa kayu dan dedaunan hutan. Beberapa saat kemudian ia pun merasa lapar dan hendak mencari makanan serta kayu bakar untuk memasak. Ia pun bergegas memakai pakaian dan membawa senjata perburuan yang ada.

Begitu ia keluar, ia pun disapa dengan ramahnya oleh tetangga-tetangganya dan anak-anak kecil yang sedang bermain dengan asiknya. Ia tersenyum dan melanjutkan langkahnya seraya berkata semoga aku mendapatkan kayu bakar yang banyak hari ini untuk memasak. Ia pun terus melangkah menelusuri hutan yang rimbun itu. Kemudian sampailah ia di tengah hutan yang begitu banyak semak dan belukar, tetapi bagi pemuda yang gagah berani ini semak dan belukar hanyalah seperti padang rumput baginya.

Kemudian ia tebang pohon yang tidak begitu besar dan memotongnya menjadi kecil-kecil agar bisa untuk dibakar. Ia juga mengumpulkan kayu-kayu dan ranting pohon yang kering, yang berserakan di semak-semak. Pemuda itu pun merasa lelah dan hari sudah hampir larut, ia pun duduk sejenak di bawah pohon yang rindang sambil mengikat kayu yang ia kumpulkan. Tidak beberapa lama kemudian terdengar suara teriakan dari dalam semak yang tidak begitu jauh dari tempat pemuda itu beristirahat. Pemuda itu pun terkejut dan bergumam, beberapa saat kemudian suara itu semakin keras. Dia pun beranjak dan masuk menyusuri semak-semak untuk mencari di mana suara ini berasal.

Di tengah perjalanan sang pemuda ini pun merasakan bunyi suara tersebut semakin keras ditelinganya dan begitu lembut bak suara seorang wanita. Sesampainya di semak tersebut alangkah terkejutnya sang pemuda ini, ia melihat seorang wanita yang begitu cantik jelita bersandar di sebuah pohon. Wanita itu sedang merintih kesakitan. Pemuda ini pun mencoba untuk mendekatinya. Ia ingin mengetahui apa yang sedang terjadi padanya. Begitu pemuda itu maju melangkahkan kakinya, wanitu tersebut langsung terkejut dan berkata.

“Siapa kau? jangan ganggu aku.”

“Aku pemburu di hutan ini, apa yang engkau lakukan di sini dan siapa namamu?” tanya Mampauh.

“Aku dikejar prajurit yang telah mengkhianatiku dari kerajaanku dan mereka hendak membunuhku, aku melarikan diri di hutan ini. Saat aku berlari aku tersandung dengan akar pohon yang begitu keras sehingga kakiku terluka,” jelas sang putri.

“Maukah kau mengikutiku, atau aku akan mencarikan obat untukmu?” tanya Mampauh lagi.

“Tidak, aku tidak pantas dibantu oleh rakyat jelata sepertimu, biarkan aku di sini,” kata putri itu dengan angkuhnya.

Mampauh itu pun terdiam, lalu ia berkata, “Ayolah, hari sudah mulai larut, ikutlah denganku atau kautinggal di hutan ini sendirian, aku khawatir saja kalau kau dimangsa binatang buas yang bisa mengoyak dan memangsamu dengan ganasnya.” Mampauh menakuti sang putri, putri yang mendengar hal itu pun langsung berdiri mendekatinya.

“Baiklah, aku akan mengikutimu tapi ingat? Berjanjilah untuk mengembalikan
aku ke kerajaanku,” kata sang putri dengan wajah yang menunjukkan keseriusan.”

“Baiklah,” jawab Mampauh sambil tersenyum.

Kemudian dipimpinnya sang putri itu dan ia pun pulang dengan kayu bakarnya beserta sang putri yang ditemukannya. Beberapa lama kemudian sampailah mereka di desa, tempat pemuda itu tinggal. Masuklah mereka ke desa itu, sang putri merasa takut dan berkata kepada pemuda itu, “Apa kau yakin akan membawaku ke tempat ini!”

“Inilah tempat tinggalku,” ujar Mampauh.

Kemudian Mampauh pun mempersilakan sang putri masuk dan menyuruhnya beristirahat agar ia pulih kembali dan bisa pulang ke kerajaannya. Sementara itu, Mampauh pergi untuk mandi dan membersihkan diri, setelah begitu lelah dan kotor ketika mencari kayu tadi.

Setelah beberapa saat kemudian pemuda itu pun kembali dan membawa beberapa ikan hasil tangkapan yang ia dapat. Walaupun, hanya beberapa ekor tetapi cukuplah untuk disantap berdua.

“Apakah engkau lapar?” tanya Mampauh.

“Tidak, aku tidak lapar,” jawab sang putri.

“Aku tahu engkau pasti lapar, ini ada sedikit lauk dan akan aku bakar ikan ini untuk
makan malam,” kata Mampauh.

“Apa? Cuma ikan saja, aku tidak bisa makan-makanan yang seperti ini aku seorang
Putri,” jelas sang putri.

“Sudahlah, jika engkau tak ingin hidup,” ujar Mampauh.

“Ya sudahlah, cepat bakar ikannya aku sudah lapar,” tegas sang putri.

Mampauh tersenyum dan berkata, “Katanya tidak lapar.”

Sang putri pun terdiam dengan wajah yang menunjukkan rasa malu. Kemudian ikan pun
dibakar dan mereka pun menyantapnya berdua di rumah gubuk sederhana itu dengan
penuh canda dan tawa.

Setelah makan, sang pemuda pun mempersilakan sang putri untuk istirahat dan tidur
diranjangnya kemudian pemuda pun keluar dan terjaga sepanjang malam untuk
memastikan keadaan desa tetap aman. Keesokan harinya pemuda itu pun pergi ke tetua di
desanya untuk menceritakan kejadian yang telah dia alami.

Mendengar hal itu sang tetua pun berkata, “Mengapa engkau lancang membawa seorang
wanita dari luar tanpa seizin aku?”

“Maaf tetua, saya benar-benar kasihan dan tidak punya pilihan selain membawanya ke
desa ini. Saya berjanji untuk membawanya pulang hari ini,” jelas Mampauh.

“Baiklah. Aku mengizinkanmu untuk mengantarnya,” kata sang tetua menyetujui.

“Terima kasih,” jawab Mampauh.

Sang pemuda langsung meninggalkan gubuk menuju penginapan tempat sang putri menginap. Sesampainya di rumah dilihatnya sang putri tertidur kemudian pemuda pun berkata.

“Ayolah, akan kuantar kaupulang.”

Segera sang putri terbangun dan termenung sejenak, lalu berkata, “Bagaimanakah kerajaanku? ayah serta ibuku,” ujar sang putri.

Pemuda terdiam dan takdapat berkata apa-apa.

Setelah itu pergilah mereka berdua meninggalkan desa tersebut setapak demi setapak, langkah demi langkah hutan itu dilalui hingga sampailah di tengah hutan. Di situ sang putri tidak sengaja melihat sebuah bunga yang begitu indah, yang tidak dia temukan di istana. Bunga itu berada di tengah-tengah semak yang begitu rimbun dan setinggi dua hasta.

“Lihatlah, ada bunga yang bagus di sana,” ujar sang putri.

“Iya, begitulah hutan kami semuanya indah, tetapi hutan ini begitu liar sehingga
jarang ada yang selamat melewati hutan,” jelas Mampauh.

Sang pemuda pun terus berkata dan menjelaskan. Namun, ketika ia melihat ke belakang sang putri telah meninggalkannya menuju bunga itu. Sang pemuda pun bicara dengan keras.

“Hey, jangan memasuki semak sembarangan, ini hutan liar bukan padang rumput,” teriak Mampauh.
Sang putri menjawab dengan suara keras dari kejauhan. “Biarlah, bagiku hutan ini tidak seliar dugaanku,” jawab sang putri dengan angkuhnya.

Putri itu pun menghampiri dan hendak mengambil bunga itu, dia amat senang ketika hendak memetik bunga tersebut. Namun, apalah dikata celaka mengintai sang putri, seekor ular kobra berukuran 19 kaki melintas di sekeliling bunga tersebut tetapi sang putri tidak menyadari.

Mampauh hanya menunggu di jalan hutan, menanti sang putri kembali dan mengambil bunga tersebut. Sudah sekian lama ia menunggu, tetapi sang putri belum juga kembali. Mampuh sangat khawatir dan pergi menyusuri semak tempat sang putri berada. Ketika sampai ia pun terkejut karena sang putri sudah terbaring disemak dengan tubuh yang pucat dan setangkai bunga ada ditangannya. Sang pemuda pun langsung memegang tangan sang putri untuk memastikan putri masih hidup. Ternyata sang putri masih hidup dan Mampauh pun membatalkan niatnya untuk mengantar putri kembali, digendongnya sang putri tersebut kemudian dibawanya pulang kembali ke desanya untuk diobati.

Hari mulai gelap, kunang-kunang beterbangan menerangi jalan mereka pulang. Sesampainya di rumah, putri pun dibaringkan di atas ranjang kemudian Mampauh pergi ke tetangga dekat yang merupakan ahli dalam meramu obat-obatan herbal. Tetangga itu bernama Marumbu, pergilah Mampauh ke rumah Marumbu untuk mencari obat yang ia butuhkan.

“Marumbu… marumbu,” teriak Mampauh sambil mengetok pintu rumah Marumbu.

Marumbu pun membuka pintu dan berkata, “Ada apa engkau kemari?”

“Temanku terluka, aku butuh obat yang dapat menyembuhkannya,” kata Mampauh.

“Sakit apa yang temanmu derita?” tanya Marumbu.

“Ia dipatok ular, di bagian tangan kanannya,” jawab Mampauh

Marumbu diam sejenak, dia pun berkata, “Aku tidak ada obatnya.”

“Bagaimana bisa, engkau seorang peramu yang hebat di desa ini,” jawab Mampauh.

“Tapi aku kehabisan obat itu, obat itu sulit dicari,” ujar Marumbu.

“Kira-kira di mana obat itu berada?” tanya Mampauh.

“Obat itu terdapat di hilir sungai, di sebuah perkampungan yang aku tidak tahu nama kampung itu dan ia berada kampung luar yang dekat dengan laut. Pergilah jika engkau ingin menyelamatkannya,” jelas Marumbu.

“Baiklah, aku akan pergi dan membawa putri itu bersamaku esok hari,” seru Mampauh.
Pulanglah Mampauh ini dengan rasa cemas, sesampainya di rumah ia pun menghampiri sang putri dan berkata,

“Bagaimanakah aku akan mengembalikan sang putri ini kekerajaannya!”

Beberapa saat kemudian ada seseorang lewat di depan rumah pemuda ini, ia bernama Majinggo Saranguak. Ia pun berhenti dan mendengarkan sejenak apa yang pemuda itu ucapkan secara diam-diam tanpa Mampauh sadari.

“Aku harus mengembalikan putri serantau ini,” seru Mampauh.

Mendengar tuturan Mampauh, Majinggo pun terkejut. Ia bergegas pergi melapor kepada ketua bahwa sang putri yang ada di rumah Mampauh merupakan putri raja yang musuh bebuyutan dengan suku Malingko.

“Tetua, ada kabar menarik,” ujar Majinggo.

“Apa itu?” tanya tetua.

Majinggo pun menjelaskan, “Mampauh sudah berani membawa seorang putri, Tetua.”

“Aku sudah tahu hal itu, aku mengizinkan hal tersebut”

“Tapi sang putri yang dibawanya itu keturunan kerajaan Serantau tetua!” seru Majinggo

“Apa?” sahut tetua dengan suara lantang.

“Apa kau yakin hal itu?” tanya tetua lagi.

“Ia tetua saya yakin akan hal itu, saya mendengar hal tersebut dengan kepala dan telinga saya sendiri,” ujar Majinggo.

“Kurang ajar (menggerutu) berani-beraninya ia mengkhianati kita, siapkan 1000 orang pasukan bersenjata untuk membunuh Mampauh esok hari,” perintah tetua kepada Majinggo.

“Baik tetua,” sahut Majinggo dengan tersenyum dan berkata dalam hati mampuslah
kau Mampauh.

Petir pun bergelegar di langit yang hitam disertai dengan hujan yang begitu deras mengguyur hutan dan pedesaan. Tepat pada subuh hari sang tetua pun mengerahkan 1000 pasukan elite bersumpit yang telah diolesi racun dari kalajengking hutan untuk memergok kediaman Mampauh. Mempauh sempat terbangun dari tidurnya karena ia ingin buang air kecil, setelah buang air Mampauh pun keheranan karena ada sesuatu yang sangat terang seperti obor api yang kian mendekat kerumahnya. Instingnya mengatakan kalau ada sesuatu yang tidak beres, ia pun segera naik ke rumah dan mengambil busur serta pisau belatinya dan menggendong sang putri memasuki hutan untuk melarikan diri.

Beberapa lama kemudian sampailah pasukan yang 1000 orang tersebut di depan rumah Mampauh. Sesampainya pasukan tersebut, mereka langsung melemparkan obor api ke atas rumah Mampauh dan meniupkan beberapa sumpit untuk memastikan Mampauh dan sang putri mati terbunuh. Ternyata salah satu dari pasukan melihat telapak kaki di atas tanah yang mengarah ke hutan, ia pun berteriak

“Mampauh lari ke hutan, ia telah mengkhianati kita.”
Tetua pun menjawab, “Bunuh mereka berdua, kejar mereka.”

“Akan kubakar dia jika berhasil ditangkap,” teriak sang tetua lagi.

“Ayooo,” teriak pasukan ketika hendak memasuki hutan.

Pasukan pun masuk ke hutan dan mengejar Mampauh dan putri yang sedang sakit.

Sementara itu, langit mulai gelap, petir pun memecah sunyi. Titik air hujan pun turun dengan lebatnya sehingga pasukan kesulitan melihat jejak Mampauh karena penerangan mereka padam terkena air. Mampauh yang sedang berlari pun berhenti sejenak karena hujan. Sementara para pasukan semakin dekat. Akhirnya, salah satu regu pasukan pun menemukan Mampauh yang sedang beristirahat. Pasukan tersebut pun berkumpul dan hendak memanah Mampauh. Ketika salah satu dari mereka hendak memanah, Mampauh pun berdiri dan hendak melanjutkan perjalanan. Ketika Mampauh hendak melangkah, tertancaplah sebuah panah tepat dipohon. Mampauh pun melihat ke belakang ternyata pasukannya sudah siap memanah. Ia pun langsung berlari tanpa henti dan pasukan pun juga mengikutinya. Beberapa lama ia berlari, akhirnya ia sampai di pantai dekat dengan pinggir hutan. Di situ terdapat perahu bambu, ia pun bergegas menyusuri perahu tersebut. Mampauh kemudian meletakkan putri di atas perahu. Ketika hendak mendorong perahu tersebut ke pinggir ia dipanah oleh seorang pasukan. Panah tersebut mengenai tepat diperutnya sehinggai mengenai usus. Namun, Mampauh terus mendorong perahu tersebut hingga akhirnya ia lolos melarikan diri dan berlabuh ke sebuah kampung untuk mencari obat yang ia butuhkan untuk sang putri.

Sesampainya di hilir sungai Mampauh melihat banyak prajurit kerajaan berjaga-jaga, ia pun berlabuh di pinggir hilir sungai, ketika ia turun ia menemukan sepucuk daun. Mampauh kemudian mengambilnya dan ia tempelkan daun tersebut ke luka akibat tusukan panah tersebut. Alangkah terkejutnya Mampauh, seketika ia merasakan bahwa lukanya sembuh dan tidak terasa lagi. Kemudian ia mendengar ada suara gemuruh di laut, ternyata pasukannya menemukannya. Mampauh pun mengambil setangkai pucuk lalu ia pun pergi kekerajaan untuk mengantarkan sang putri. Setibanya di kerajaan, ia pun diizinkan masuk dengan keadaan menyamar karena jika kerajaan tahu maka ia akan dibunuh. Ia pun menemui raja.

“Wahai raja, aku menemukan putrimu terluka di hutan lalu kubawa dia ke sini.”

“Siapa namamu?” tanya raja.

“Namaku Mampauh?” jawabnya.

“Pucuk apa yang engkau bawa?” tanya raja lagi.

“Ini obat yang kuambil untuk menyembuhkan penyakit yang diderita sang putri,” jawab Mampauh.
Tidak lama kemudian datanglah prajurit yang melapor, “Ampun tuanku ada sekitar seribu pasukan Dayak menyerbu kita.”

Seketika itu pun raja curiga kepada Mampauh dan berkata, “Siapkan pasukan dan hancurkan pasukan Dayak itu.

Mampauh pun mengatakan, “Jangan mereka bagianku.”

“Ternyata engkau musuh kami, bunuh pemuda ini,” perintah raja kepada prajuritnya.

“Baiklah, tapi aku mohon berikan pucuk ini kepada putrimu,” ujar Mampauh.

Baru selesai Mampauh itu berkata, ia pun langsung diterkam dengan pedang prajurit dari belakang dan tepat mengenai jantungnya. Mampuah itu pun tersungkur dan pucuk yang ia pegang terjatuh di dekat sang putri. Malang nian nasib Mampauh ini. Sang raja pun memerintahkan seorang tabib untuk mengobati putrinya dengan obat itu. Setelah beberapa saat putri pun terbangun dan langsung berpelukan dangan ayahnya. Ia pun terkejut melihat pemuda yang membantunya mati dihadapannya. Sambil menangis sang putri pun menceritakan semua kepada ayahnya bahwa pemuda itulah yang telah berkorban membawanya kemari dan menyelamatkan hidupnya. Sang raja pun terharu mendengar hal itu dan menyesali perbuatannya. Sementara itu pasukan Dayak pun habis terbunuh oleh pasukan kerajaan.

Keesokan harinya raja pun mengumpulkan para pemuka dan membicarakan kejadian yang dialami putrinya. Untuk mengenang jasa pemuda tersebut ia pun mengangkat sebuah pucuk yang ia namai Pucuk Mampauh karena pucuk ini telah menyelamatkan sang putri oleh bantuan seorang pemuda yang bernama mampauh. Akhirnya, kerajaan pun kembali aman dan putri pun sudah bahagia dengan hidupnya. Karena pucuk pohon mampauh banyak hidup di hilir sungai kerajaannya, raja pun menyebut kerajaan ini dengan sebutan Kerajaan Mampauh. Seiring berjalannya waktu lama-kelamaan kata Mampauh lebih dikenal dengan nama Kerajaan Mempawah, yang kemudian menjadi kota yang kita kenal hingga saat ini yang namanya berasal dari seorang pemuda pemberani bernama Mampauh.

Tinggalkan Komentar