Guru

Pilihan itu Emansipasiku

Novi Sasmitasari
SMPN 12 Sungai Raya

Tik…tok..tik..tok.. detak jam itu lagi-lagi menyadarkanku di tengah sunyi malam. Dia datang menyergap ingatankku kala bergulat di masa sulit. Bergema panggilan di ujung gelap yang tak aku pinta.

“Untuk apa kau lanjutkan ini?” tanya dia dengan sinis.

Aku hanya bisa menunduk tanpa mengucap sepatah kata pun. Dalam diam aku menelisik jauh perkataannya. Bukankah sebelumnya ini sudah dibicarakan. “Kenapa hal ini selalu memicu pertengkaran di antara kami?” tanya batinku.

Dia menghampiriku dengan pesona yang tak biasa. Sosok yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Awalnya tak ada getaran yang berarti. Tiap bertatap hanya rasa semu yang kurasa. Tapi, dia selalu mencari celah tuk bisa saling bercengkrama.

Hari demi hari dia kian memberi perhatian yang tak terduga. Sekokoh hati ini, luluh juga melihat kesan manis yang disematkan. Aku pun mulai membuka diri. Kini tersimpan getaran yang menjelma rasa nyaman ketika berada di dekatnya.

Waktu menunjukkan pukul 19.30. Aku sedang asyik dengan laptopku. Seperti biasa aku selalu lengket dengannya ketika diguyur tugas-tugas kerja dan kuliah. Inilah pilihan yang aku pilih bekerja, melanjutkan pendidikan, sekaligus berkeluarga. Aku harus menjalankan ketiganya secara seimbang. Tapi, entahlah kini aku dan dia mulai kehilangan keseimbangan.

“Tak perlu lagi kau mengikuti idelismemu itu. Sekarang yang perlu kau lakukan hanyalah melayaniku” terdengar suara sinis dari belakangku.

Pernyataan itu sontak menyadarkanku bahwa dia yang sekarang bukanlah sosok yang dulu kukenal.

Pikiranku pun berdalih mungkin perubahan ini terjadi karena dia mulai lelah. Ya, aku yang belum bisa menjadikan dia sesosok Ayah. Dia sudah dua tahun bersamaku. Namun, sinyal itu belum juga diberikan pada kami.

Entahlah, mungkin kami berdua belum diberi kepercayaan untuk itu.

Malam semakin larut, tak terasa sudah menunjukkan pukul 23.00. Aku yang awalnya bersemangat menyambut kedatangan si dia, harus kalah dengan rasa kantukku. Aku pun merebahkan diri di kasur empuk kesayangan kami. Yah, karena kami selalu punya cerita di tempat itu. Tapi, itu dulu sekarang dia tak lagi sama untukku.

Terdengar derap langkah yang memecahkan keheningan malam, tapi kuabaikan begitu saja karena aku tahu bahwa itu dia. Dia pun meletakkan handphone di samping meja tempat tidur, lalu bergegas ke kamar mandi. Tiba-tiba handphone itu berdering, tentu saja aku jadi terbangun. Kuambil dan kutatap layar handphone itu dengan tatapan tak berselera. Tertera pesan singkat dari seseorang bernama Kezia. Sontak mataku langsung memiliki energi sempurna untuk membaca isi pesan itu. “Besok datang kembali ya?” Pesan singkat ini membuat imajinasi negatifku berkelana tentang dia. Tiba-tiba terdengar decit pintu kamar di telingaku. Aku pun pura-pura terlelap ketika dia datang.

Fajar mulai menampakkan raut wajahnya. Aku pun terbagun dan bergegas untuk memulai rutinitas seperti biasa. Aku merasa dia semakin berbeda dan jauh dari hatiku. Tak lagi ada perhatian yang ada hanya cercaaan. Kini pagiku tak lagi sama, tak ada sapaan manis, yang ada hanya wajah cemberut dengan segala kepenatannya. Kucoba tuk mencairkan suasana dengan menyapa dia. Tetapi, dia berlalu tanpa sepatah kata pun.
“Inikah pilihanku?”
“Inikah dia yang kukenal?”
“Inikah janji yang pernah diucapkan dulu?”

Bertubi-tubi tanya dalam batinku.

Tampaknya semua itu telah lenyap terguyur nafsu yang sama.
Keruwetan pikiranku tentang dia berimbas pada pekerjaan dan kuliahku. Aku semakin tak fokus. Kepalaku dipenuhi rasa penasaranku tentang dia yang mulai berubah.

Hidangan istimewa telah sengaja aku siapkan. Aku tahu hari ini dia pulang lebih awal karena tidak ada lembur. Terselip harapan agar ini semua dapat mencairkan suasana di antara kami. Kedatangan dia kusambut dengan penuh semangat. Kami pun makan bersama. Tapi, lagi-lagi dia hanya menunjukkan sikap beku padaku. Hal ini semakin memancing rasa penasaranku. Aku pun menanyakan pesan singkat dari Kezia yang pernah kubaca di handphone itu.

“Siapa Kezia?” tanyaku.

Wajahnya berubah merah padam dengan mata yang melotot.

“Apa salah aku menanyakan ini?” lanjutku
“Tentu saja salah, ini bukan urusanmu.”jawab dia.
Aku harus tahu siapa Kezia.
Dia enggan menjelaskan sosok Kezia. Hal ini semakin memeperkuat kecurigaanku bahwa ada sesuatu di antara mereka.
“Ah, tak usah cari perkara. Urusi saja idealismemu itu.” sahut dia.
“Emangnya ada apa dengan idealisku?”
“Bukankah dari awal sudah tahu siapa aku?”
“Kenapa dulu memilihku?”
Serentak tanyaku

Aku dan duniaku tak bisa dipisahkan karena untuk mencapainya sudah banyak yang harus kukorbankan. Inilah pilihanku. Kenapa hal ini tiba-tiba dipertanyakan lagi? Tanyaku.

Sontak dia langsung meluapkan kemarahannya dengan menghempas piring dan gelas yang ada di meja makan. Lalu, dia pun pergi begitu saja. Aku pun terperanjat tak percaya dengan anarkis yang dia pertontonkan. Dia bukan lagi sosok yang kukenal. Dia menjelma sosok menakutkan yang siap menerkam mangsanya.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan pun berganti bulan. Tanpa terasa kami semakin renggang dalam dua bulan ini. Tak ada usaha dari dia untuk memperbaiki ini semua.

Tanpa sengaja di sebuah pusat perbelanjaan, aku melihat dia bersama seorang wanita. Aku tak pernah mengenal sosok wanita itu sebelumnya. sosok wanita muda dengan paras cantik dan tinggi semampai. Aku pun mengikuti dia hingga berhenti di sebuah penginapan.

Batinku semakin memanas ada hubungan apa dia dengan wanita itu? Aku pun terus mengikuti dia dan wanita itu sampai ke dalam penginapan tersebut. Kudengar dia memesan sebuah kamar. Merekan pun begegas menuju kamar yang dipesan itu.

Tak selang beberapa lama dia dan wanita itu masuk ke kamar. Aku pun tanpa pikir panjang dengan mudah langsung mendobrak pintu yang ternyata tak terkunci itu. Mataku menyaksikan sebuah pengkhianatan, ternyata

Dia…

Yah, kini aku mengerti pekerjaan dan pendidikan adalah pilihanku, tapi tidak dengan dia. Biarlah kini aku belajar dari tiap langkahku. Tiap langkah memiliki cerita untukku. Nikmati saja tiap liku dengan asa menggebu, meski terkadang meneteskan pilu, serta sesak tak menentu. Biar kelak kunikmati tawa semringah yang tak lagi palsu. Inilah pilihan emansipasiku.

Tik..tok..tik..tok..tak terasa sudah menunjukkan pukul 02.00. Lagi-lagi aku jatuh dalam ingatan suram itu. Biarlah mendung itu lenyap ditelan waktu. Agar kini aku bangkit tuk menyambut tawa semringahku.

Tinggalkan Komentar