Guru

Perjuangan Berdarah

Euis Tarliana, M.Pd.
SMP Negeri 16 Pontianak

Namaku Theodora Ira, mereka biasa memanggilku Ira atau Mbak Ira. Sulit rasanya mengawali kisah ini, memulai dari mana dan apa yang mau kuuraikan terlebih dulu. Baiklah aku mulai dari perasaanku yang selalu berkecamuk setiap aku berhadapan dengan mereka. Setiap hari kusapa mereka dengan penuh keceriaan agar mereka lupa dengan rasa sakit yang kadang membuat aku ikut meringis.

Mereka datang dan pergi seperti sebuah terminal yang selalu ramai saat jam keberangkatan dan kedatangan. Walau yang datang kadang bertahan hingga belasan tahun, tapi lebih miris melihat mereka yang datang sebentar kemudian pergi dan tak pernah kembali lagi. Inilah sebuah perjuangan yang begitu berat. Berat melihat mereka yang berjuang dengan keyakinannya agar terus bisa bernapas walau dengan deraan penyakit yang selalu menyertai saat hari yang ditunggu tiba.

Hari yang ditunggu pun tiba, mereka seperti biasanya datang lebih pagi dari para petugas agar bisa pulang lebih awal. Setelah semua pada posisinya masing-masing, tiba-tiba sebuah teriakan terdengar dari sudut kanan gedung. Kesunyian pecah saat yang lain terkejut dan melihat kesedihan keluarga yang ditinggalkan. Entah ini yang keberapa aku seperti tak sempat mengitungnya karena begitu banyak yang pergi selama aku bertugas di sini.

Jika boleh aku meminta hentikan penyakit ini aku tak sanggup melihat mereka datang dan pergi begitu cepat. Mereka kadang tak sadarkan diri karena penyakit ini bisa merusak fungsi otak jika racunnya telah mencapai angka tertentu. Mereka harus tetap vit agar bisa terus menjalaninya. Tanpa tensi tinggi, tanpa diabetes, tanpa HB rendah, dan tanpa penyakit lain yang bisa memperburuk kondisi mereka.

Sejak tadi aku curhat ini dan itu sampai lupa aku ini siapa. Aku adalah pelayan masyarakat dalam bidang kesehatan, lebih tepatnya perawat. Tugasku berada pada ruang haemodialisa (HD) atau ruang cuci darah, itu kata pasienku.

Aku lanjutkan ceritaku, hampir setiap hari ruanganku kedatangan pasien baru. Di antara mereka ada yang baru saja menyadari penyakitnya, tapi tidak sedikit dari mereka yang terlambat melakukan tindakan karena dianggap enteng dan yakin sembuh tanpa HD. Padahal itu keyakinan yang salah karena sampai detik ini belum ditemukan obat atau tindakan yang dapat menyembuhkan gangguan fungsi ginjal. Jalan satu-satunya mereka harus menjalani HD walaupun di antara mereka ada yang pernah melakukan cangkok ginjal tetapi itu hanya bertahan selama enam tahun saja dan pasien tersebut sekarang tetap harus menjalani HD.

Ah! Rasanya seperti mendahului keputusan yang maha pencipta, walau banyak juga penyakit yang menyebabkan kematian, misalnya kanker, gagal jantung, virus, dan penyakit lainnya. Semuanya hanya rencana Tuhan pada hambanya agar ikhlas menjalani setiap ujian kehidupan.

Oh ya, pagi ini aku mendengar kembali berita duka dari ruang ICU kalau pasienku baru saja meninggal setelah tiga hari dirawat di sana. Padahal baru dua kali pasien tersebut menjalani HD dan berita ini juga bukan untuk yang pertama kalinya. Mau bagaimana lagi semua kehendak Tuhan terhadap hambanya. Belum lagi pasienku yang lainnya, ada yang koma, ada yang berteriak-teriak, ada yang hanya merenung saja tanpa berkata sedikitpun, ada yang seperti anak balita karena terpaksa menggunakan pampers.

Itulah gambaran kondisi mereka, walau tak sedikit darI mereka yang terlihat bugar dan bersemangat seperti mereka yang sehat. Mereka seperti lebih siap menjemput maut yang bisa datang kapan saja. “Saya hanya tinggal menunggu giliran, kapan saya dipanggil” kata pasienku yang sudah 14 tahun menjalani HD.

Lain lagi dengan mereka yang menjalani HD tanpa keluarga, datang dan pulang sendiri. Tapi mereka tetap bersemangat walau tak ada teman bicara, tempat mengeluh, dan tempat mereka mengadu. Kadang ada saja yang mereka inginkan, misalnya makanan yang tidak boleh mereka makan, saat HD mereka ingin memakannya. Jika tiba-tiba fisik mereka menurun hingga HD harus dihentikan. Ada lagi pasienku yang benar-benar lemah dan terpaksa harus dirawat, anehnya keluarga yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba hingga akhirnya harus merintih sendirian tanpa sanak keluarga, oh tragisnya. Hal ini mestinya jangan terjadi mereka yang mestinya mendapatkan perhatian seperti diabaikan begitu saja tanpa belas kasihan.

Jangan tambah penderitaan mereka dengan kesendirian dan kesedihan yang lain, berikan mereka kehangatan dan pelukan penuh cinta agar mereka tetap tabah menjalani ujian di tengah lingkaran kebahagiaan dan harapan. Harapan bahwa esok masih ada dan akan tetap ada sampai dunia ini berakhir. Mengapa jadi aku yang banyak meminta? Aku ini siapa, aku bukan malaikat yang sempurna yang bisa membantu mewujudkan keinginan hamba yang memohon. Tapi itulah hidup, uijan akan berakhir jika kehidupan berakhir. Selama napas masih menghembus selama itu pula ujian akan datang menyertai. Akhirnya biarlah semuanya mengalir seperti air yang akan berakhir di muara, lalu menyatu di lautan yang maha luas. Entah kapan air laut akan kering dan duniapun mungkin berakhir dengan sendirinya.

Tinggalkan Komentar