Masyarakat

Para Leraar

Oleh Priyo Setioko

Hari ini adalah hari yang sangat cerah di Kota Khatulistiwa Pontianak, sudah seminggu lamanya aku kembali ke kampung halaman setelah sekian lama bekerja sebagai Graphic Designer di kota Gudeg Jogjakarta.
Ya, aku mulai meninggalkan kota Pontianak semenjak aku lulus dari SMU tahun 2002, Sebenarnya tujuan pertamaku merantau ke Jogjakarta adalah ingin menimba ilmu, apalagi kala itu, Universitas yang ada di Pontianak belumlah seperti saat ini, semuanya masih terbatas, sedangkan Fakultas yang sesuai dengan minat dan bakatku belum ada di kota ini. Lalu mengapa aku bekerja disana, bukankah sebagai putra daerah seharusnya aku pulang ke kampung halaman ? Tidak cintakah aku dengan kota dimana aku dilahirkan ?

Jawabannya, bukan aku tak cinta, tapi aku sudah terikat kontrak dengan sebuah perusahaan penerbitan buku, mereka merekrutku sejak aku lulus dari perguruan tinggi tahun 2006. Aku bekerja membuat cover untuk setiap novel atau pun buku yang mereka terbitkan, dengan masa kontrak selama sepuluh tahun. Photoshop, Adobe Illustrator dan beberapa software desain grafis adalah software yang tak asing lagi di meja kerjaku.

Selain itu, aku sudah memiliki istri yang berasal dari Klaten Jawa Tengah, serta dua orang putra kembar, yang saat ini masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sehingga hal ini membuatku teramat sulit untuk pulang ke kampung halaman, pada saat idul fitri pun waktu liburanku sangat pendek hanya dua atau tiga hari.

Dan saat ini, adalah saat yang tepat untuk pulang ke Pontianak, sebab selain masa kontrakku sudah selesai, aku berkeinginan untuk membuka lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bidangku yaitu percetakkan. Dengan kata lain aku ingin mencoba membangun kampung halamanku

oooOOOooo

Pontianak memang sudah banyak berubah, mungkin itulah yang berada di benakku saat ini, teringat di zamanku Oplet masih primadona bagi anak-anak sekolah, kini hanya beberapa angkot yang tersisa di kota ini. Bahkan kini aku tak menemukan lagi becak, meskipun kemungkinan masih ada tapi sulit kutemukan.

Sepeda motor dan mobil sudah tak asing lagi di kota ini, dua alat transportasi dulunya bukan barang yang murah, mahal. Namun sekarang di setiap ruas jalan sering kutemukan mobil dan sepeda motor. Kadang ada sebuah anekdot aneh di otakku “Katanya jaman sekarang semuanya serba mahal, tapi mengapa masyarakat mampu membeli motor dan mobil, Bahkan dengan harga yang luar biasa mahalnya ?” Anekdot yang sepertinya tak perlu dijawab dan mungkin hanya sebuah pertanyaan konyol yang bersarang di otakku, biarlah pertanyaan ini menjadi bias di otakku sendiri.

Pontianak sekarang sangat ramai, bahkan penduduknya pun tak ubahnya dengan penduduk di kota – kota besar, mereka pergi ke mall dengan mobil, mereka bekerja dari siang pulang sore, bahkan kemacetan pun tak ubahnya dengan kota Jakarta. Egoisme sesama pengendara di tambah dengan cacian serta makian menjadi sesuatu yang membuat kupingku tak memerah. Apalagi jika aku melintasi jalan Tanjungpura setiap sore, ditambah lagi jika ada troton yang melintas sehingga mau tak mau aku harus mengalah, melawan troton berarti berhadapan dengan maut.

Ada sebuah persamaan antara Jogja dengan Pontianak yaitu warung lamongan yang menjual pecel lele, ayam penyet dan sebagainya. Tapi aku belum menemukan telor dadar bakar yang menjadi santapan favoritku selama di Jogja. Ada pula angkringan yang harganya mungkin tiga kali lipat dengan angkringan yang berada di Jogja, Dulu dengan uang Rp. 5000,- perak aku bisa menikmati lele bakar di Jogja, tapi di Pontianak uang sebesar itu tak akan mendapatkan apapun, selain beberapa batang rokok dan kopi sachetan.

Di Jogja uang Rp. 1000,- bisa mendapatkan sebungkus nasi rames dengan lauk oseng-oseng kacang panjang serta gorengan tempe, penjual nasi rames ini berada di depan Blok O, daerah Janti. Tapi, Ah, sudahlah lain lubuk lain ilalangnya, mungkin pribahasa inilah yang cocok kugambarkan dengan keadaanku saat ini, Pontianak bukanlah Jogja, dan Jogja bukanlah Pontianak.

Hanya satu hal yang tak pernah hilang dari kota Pontianak, yaitu budaya ngopi di warung kopi, bahkan pertumbuhan warung kopi sangatlah fenomenal di kota ini, hal ini terjadi karena budaya orang melayu yang suka berbicara tak jelas atau dalam bahasa sini ngomong merampot-rampot, Seseorang di warung kopi mampu menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membicarakan hal yang tak penting, meski mereka tak makan hanya menghabiskan beberapa bungkus rokok.

Unik, tapi inilah kebudayaan yang tak pernah hilang dan menurutku seharusnya tetap ada di kota ini, Dan pagi hari ini aku mendapatkan sebuah kisah yang menarik dari seorang mantan guruku sewaktu aku duduk di bangku SMP.

oooOOOooo

Minggu, 13 Maret 2016 adalah sebuah hari yang bisa dikatakan bersejarah dalam hidupku, sebab, sudah lama aku tidak bertemu dengan guruku sewaktu SMP dulu, Alhamdulillah, pada hari ini akhirnya aku bertemu dengan salah seorang dari mereka, Di warung kopi ashiang,

Nama mantan guruku itu bernama Pak Kusuma, penampilan beliau masih seperti dulu, Rambutnya sedikit memutih. Tubuhnya masih kurus seperti dulu. Dengan wajah yang sedikit keras

Beliau duduk sendirian sembari menyeruput kopi susu hangat, di temani beberapa kue tradisional di mejanya. Kuhampiri beliau lalu kusapa dengan senyuman manis, dan beliau membalas senyumanku
“Pak Kusuma ya ?” tanyaku
“Ya, Bapak siapa ya ?” dia balik bertanya
“Saya Ardy, saya murid SMP Muhammadiyah 1 Pontianak alumni tahun 1999” jawabku
“Ardy, siapa ya ?” tanyanya dengan rasa heran
“Ardy Setiawan, saya dulu sering terlambat masuk sekolah dan sering di panggil guru BP, Saya dulu juga sering dipanggil guru dan saya juga sering di bentak oleh Bapak” Jawabku
“Oh, astaga, Ardy yang dulu pernah mengirimkan surat cinta ke Bu Desi bukan ?”
“Ya, Gimana pak, apa Bapak masih mengajar ?” Aku balik bertanya
“Ya, begitulah, tapi sekarang semuanya terasa berbeda.”
“Berbeda ? Berbeda gimana pak ?” aku merasa sedikit heran dengan kalimat berbeda yang beliau utarakan
“Sebelum, Bapak menjawabnya, Bapak ingin bertanya kepada Ardy, Apa Ardy masih dendam atas apa yang Bapak lakukan dulu ?”
“Tidak, sama sekali tidak, karena Bapaklah yang membentuk jiwa saya hingga seperti saat ini”
“Bahkan ketika bapak melemparmu dengan penghapus papan tulis, tidakkah kamu dendam saat itu ?”
“Tidak, ah sudahlah pak jangan mengingat masa lalu, Saya sudah melupakan semuanya”
“Baik, sepertinya kamu sudah mengerti, kenapa bapak melakukan itu semua, maafkan bapak Ardy”
“Sudahlah pak, saya sudah melupakan semuanya, Jangan mengingat masa lalu justru dengan disiplinlah kita bisa berhasil”
“Bapak sedikit miris dengan perkembangan anak zaman sekarang”
“Miris, gimana pak ?”
“Kami para guru sebenarnya memiliki beban moral yang tinggi, kami para guru berbeda dengan dosen di kuliahan sebab saat kalian kuliah, kalian dianggap sudah dewasa tapi saat masih duduk di bangku sekolahan kami berkewajiban membina kalian hingga menjadi pria yang dewasa serta berakhlak mulia, dan itu tentu tak mudah…”
“Lalu apa yang membuat bapak miris ?” tanyaku dengan nada keheranan
“Ya, coba kamu bayangkan zaman sekarang pacaran ala anak SMP bukanlah hal yang tabu, Hal itu belum lagi kejadian kasus hamil diluar nikah dengan usia yang belum matang, Terlebih lagi dengan kasus Narkoba, Kasus Pembunuhan yang dilakukan oleh anak SMP, mungkin kamu masih ingat kasus Nanang Selembe ?”
“Siapa itu pak ? Saya baru seminggu pulang ke Pontianak dan memulai merintis usaha disini” tanyaku
“Oh begitu, kasus Nanang Selembe adalah salah satu bukti akibat kenakalan Remaja di era sekarang, Hal ini berbeda dengan keadaan dizaman kalian, memang Bapak akui kamu termasuk anak yang nakal, tapi senakal-nakalnya kalian, kalian tidak pernah melanggar perintah Guru, kalian menghargai kami, itu yang membuat Bapak suka”
Aku tersenyum mendengar penjelasan dari beliau sembari kuhembuskan asap rokok dari mulutku.
“Meskipun demikian, Bapak tahu tidak semua anak zaman sekarang kurang ajar terhadap kami, sebagian ada yang patuh dan itu semua kembali kepada orang tua mereka, tapi ada hal yang paling membuat Bapak miris sekali”
“Apa itu, Pak”
“Apa mungkin seekor harimau akan melahirkan kucing ?”
Aku menggelengkan kepala
“Maksud bapak, orang tua zaman sekarang ingin memiliki anak yang memiliki prestasi dan setajam Harimau, tapi mereka mendidiknya seperti kucing, Mungkin kamu masih bingung dengan penjelasan ini, begini analoginya, Jika dulu kamu dihukum sama bapak lalu kamu bilang ke orang tuamu apa yang terjadi ?” tanya beliau sembari menyeruput secangkir minuman hangatnya
“Orang tua akan tambah marah”
“Betul, lalu yang terjadi zaman sekarang adalah saat seorang guru menghukum murid-muridnya lalu sang murid melapor ke orang tua, maka yang terjadi adalah para guru yang dihukum…”

oooOOOooo

Aku mengernyitkan dahiku,
“..Itulah yang terjadi didunia pendidikan sekarang ini, itulah maksud Bapak, Jika seekor kucing haruslah dididik ala kucing, seekor kucing tidaklah menjadi seekor harimau, Mungkin kamu pernah dengar kasus guru yang di potong rambutnya oleh orang tua murid karena dia menghukum muridnya yang berambut panjang ? Pernahkah kamu mendengar seorang guru perempuan masuk penjara karena dia mencubit muridnya Padahal muridnya sangat ribut tatkala dia sedang shalat dan memohon kepada Allah SWT ? ”

Dalam benakku muncul sebuah pertanyaan, “Padahal yang salah adalah muridnya, mengapa para Guru yang dihukum, dimana letak logikanya ?”

“Jujur kami ingin mendidik dan menciptakan generasi yang berkualitas seperti kalian, Itulah beban kami para Leraar, para guru, hukuman yang timpakan kepada kalian adalah membentuk agar kalian lebih displin, tapi kami takut menghukum kalian karena kami tak mau prestasi kami tercoreng karena pernah menjadi narapidana, kami manusia, kami memiliki keluarga, jika kami pernah tercoreng sebagai narapidana apakah semua orang akan menerima kami ?”
“Sebagian tidak” jawabku singkat
“Dan jangan salahkan kami jika suatu saat generasi Indonesia adalah generasi kucing yang manja, yang bisanya hanya mengadu, yang bisanya hanya galau”
Tersentak hatiku akan pernyataan Pak Kusuma, rasa ingin menangis menyelimuti dadaku, Dalam hatiku aku ingin membentuk keluarga yang sakinah sesuai dengan Islam, kutanamkan nilai Islam kepada anak-anakku, Rasulullah SAW, saja pernah pernah bersabda Bahwasanya “Jika Fatimah binti Rasulullah mencuri maka Rasulullah yang akan memotong tangannya” sungguh aku tak tahu ingin berbicara apalagi, mereka adalah pahlawan yang tak mengharapkan apresiasi, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tanpa mereka maka takkan ada pilot, aktor, aktris, atau siapapun profesi seseorang. Mungkin ini semua adalah produk HAM, Produk buatan negara asing.
Aku juga bingung siapa yang bersalah siapa yang melanggar HAM apakah Guru yang menghukum karena ingin membentuk jiwa kepribadian seseorang atau Orang tua yang menghukum guru karena balas dendam ? Siapa yang Bodoh ?
“Meski demikian bapak juga tidak setuju dengan guru yang menghukum diluar batas” pernyataan Pak Kusuma membuyarkan lamunanku
“Maaf, Pak ?”
“Begini, sebagian dari guru juga ada yang menghajar hingga seseorang masuk rumah sakit, bagi bapak itu juga melanggar Hak Asasi dan tidak dibenarkan, Hukumlah sewajarnya, jangan ciptakan generasi brutal, generasi Barbar. Bapak rasa tampar, jewer, sentilan itu sudah cukup, itulah sebabnya Bapak tidak pernah memukul perutmu, memukulmu dulu dan bapak hanya cukup tampar serta melempar penghapus, bapak rasa dulu itu sudah lebih dari cukup”
Aku menganggukan kepala
“Oh maaf, Bapak sampai lupa, kamu pesan apa, sebab dari tadi kamu hanya merokok saja didepan bapak, Pesanlah nanti bapak bayarkan”
“Oh tidak usah pak, terima kasih”
“Ah, Tak apa-apa kok, pesan saja, kan jarang guru yang mentraktir muridnya yang sudah sukses”
Kami tertawa, dan akhirnya aku memesan secangkir kopi hitam hangat. Lalu melanjutkan perjalanan pulang kerumah
Ya, Guru tanpa anda kami tidak bisa seperti sekarang, manusia butuh bimbingan meski sekarang nasib sebagian dari anda miris. Terima kasih guru, terima kasih pahlawan tanpa tanda jasa, para Leraar.

Tinggalkan Komentar