Sastrawan

Ide Gilaku

Oleh Veniy Andriyani

Syana, seorang murid yang cantik di sekolah SMA Kapuas. Namun, sifat dan kelakuannya berbanding terbalik dengan paras yang ia miliki. Aku kesal, ia seenaknya berlaku kasar kepadaku, hanya karena aku berasal dari keluarga kurang mampu. Hari demi hari, kelakuannya semakin menjadi-jadi. Ingin rasanya aku melawan, namun tak memiliki keberanian. Aku hanya bisa menangis dan berharap ia berhenti mengganggu.

***

Pukul lima pagi, aku dan ibu sudah tiba di kantin sekolah untuk mempersiapkan makanan yang akan dijual. Sembari menunggu bel masuk kelas berbunyi, aku menyempatkan diri untuk sarapan. Aku tak malu dengan keberadaan ibu yang berjualan di kantin. Meskipun, Syana sering menjadikan hal ini sebagai bahan ejekan. Beruntunglah ibu dan para guru pun tak pernah tahu perihal buruk yang aku alami. Mengadu hanya akan membuat permasalahan baru. Biarlah, aku yakin semua ini akan segera berakhir.

Tak seperti biasanya pagi ini hujan turun begitu lebat. Jam ditanganku sudah menunjukkan pukul enam lewat lima puluh menit. Kuperhatikan siswa yang datang baru sedikit dan sepertinya proses pembelajaran hari ini akan tertunda.

Aku berjalan menuju kelas dan kudapati belum ada satupun murid yang datang. Saat menunggu, ada sesuatu yang terbesit dibenak. Sebuah ide besar. Seketika itu aku mengeluarkan pulpen dan selembar kertas untuk menuliskannya. Aku tak ingin lupa dan tak ingin kehilangan ide itu.

Hujan mulai reda. Satu persatu murid berdatangan, begitu juga Syana. Ia datang dengan seragamnya yang setengah basah. Kulihat Ia menggigil kedinginan dan segera duduk di bangkunya. Anehnya, ia tiba- tiba tersenyum sendiri. Apa yang ia pikirkan?

Saat Pelajaran pertama, guru terlambat masuk kelas akibat hujan lebat. Kami pun hanya diberikan tugas untuk mengerjakan latihan Fisika. Ini adalah kabar buruk bagiku. Saat tidak ada guru, Syana pasti akan menggangguku kembali dan menyuruhku mengerjakan tugasnya.

Kulihat Syana menghampiri tempat dudukku. Aku menunduk melihat buku latihan yang terletak di atas meja. Berpura-pura tak melihat kehadirannya.

“Tin, nih kerjain tugasnya ya!” ucap Syana sambil menyodorkan buku latihannya tanpa melihatku sedikitpun. Ia kemudian sibuk dengan mencoret-coret kertas di bindernya sembari tersenyum kecil. Sepertinya ia sedang bahagia atau mungkin saja sedang jatuh cinta. Tak biasanya ia bersikap seperti ini. Entahlah, aku tak mengerti dan tak mau mengerti dengan apa yang ia rasakan. Yang penting ia tak menganggu. Tak mengapa jika ia menyuruhku mengerjakan tugasnya.

***

Seperti pagi sebelumnya. Aku membantu ibu menyiapkan jualan kantin. Setelah semuanya beres, aku memutuskan untuk ke kelas terlebih dahulu sebelum sarapan. Saat itu, belum ada satupun murid yang datang karena masih terlalu pagi. Sesampainya di kelas, aku meraih kertas dan pulpen, lalu menuliskan sesuatu.

***

Hari-hari berlalu, aku tak pernah lupa untuk menuliskan semua ideku. Aku tak mengerti mengapa setiap pagi selalu saja ada ide baru datang. Aku juga tak mengerti dengan sikap Syana yang berubah menjadi baik. Sepertinya, hal besar terjadi dalam hidupnya. Aneh. Tak ada lagi perlakuan kasarnya seperti dulu. Bahkan ia tak pernah lagi memintaku mengerjakan tugasnya. Aku sangat bersyukur. Akhirnya hidupku tenang dan aman.

***

Aku berlari menuju kelas. Jam ditanganku sudah menjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Walaupun masih awal, akan tetapi satu per satu murid sudah mulai berdatangan. Aku terlambat. Biasanya pukul enam aku sudah berada di kelas untuk menuliskan ide-ideku. Gawat, aku tak akan bisa menuliskan semua ide-ideku apabila ada orang lain. Aku mempercepat langkahku.

Syukurlah, saat aku sampai masuk kelas, ternyata belum ada murid datang. Aku menutup pintu kelas dan duduk di sebuah bangku. Aku mulai menuliskan ideku kembali ke atas kertas. Kertas inilah yang merubah Syana. Sebuah kertas yang kujadikan surat cinta palsu untuknya. Aku akan terus menulis surat ini untuk membuatnya jatuh cinta dan bahagia. Semuanya berubah menjadi lebih baik saat aku menuliskan surat cinta palsu ini untuknya.

Dalam setiap surat yang aku tuliskan untuknya, aku selalu menuliskan “kelak kamu akan tahu siapa aku”. Padahal semua ini adalah kepalsuan. Syana tidak akan pernah tahu siapa penggemar rahasianya. Biarlah semua ini menjadi sebuah misteri. Misteri yang aku buat untuknya.

***

“Brraakkk”

Aku terkejut. Pintu kelas terbuka. Sosok perempuan datang sebelum aku sempat menyimpan kertas ini ke dalam laci mejanya.

“Syana?”

Lalu hening diantara kami.

Tinggalkan Komentar