Sastra

Puisi Dian Nathalia Inda

TERBUAI

Kaki langit masih kelam

Cahaya sang surya pun masih malu-malu

mengintip dari balik bayang

terdengar suara elok menenangkan

Tak ada jeda tak ada nanti

Sunyiku hilang..lelapku pergi

Tergantikan rutinitas

Tuk mainkan peran silih berganti

Gilasan waktu datang pergi

Membahanakan panggilan-Mu

Hanya lima waktu wajib-Mu

Tanda syukur akan hidupku

Tapi kadang kulupa waktu

Kutunaikan tak tepat waktu

Dunia mencengkramku

Membelit bagai benang kusut

Tak terurai laksana tiada akhir

Kulupa hidupku kan berakhir

Entah kini esok atau nanti

Tak bisa sembunyi………..tak mampu berkelit

 

METAMORFOSIS

Dulu…..

Kau kokoh menyambut pagi

rentangkan tangan warnai hari

Teduhkan jiwa semangat kerja

Kini……..

Rinai tetes hujan datang dan pergi

Perlahan tapi pasti

Hancurkan …..musnahkan ragamu

Tinggalkan rona noda bergayut

Bagai ranting kering musim kemarau

Berserak..teronggok sepi

Kehangatanmu telah pergi

Warnamu pun kini berganti…

Jejak menghitam hiasimu

Seakan kau tiada arti

 

MATA AIR SURGAKU

Bertahun lalu kau hadir

Usiaku masih belasan

Tanpa beban

Kutapaki asa bersama

Tulusnya hati

Laksana banyu biru tanpa dosa

Genggaman tanganmu

Luruhkan derai surgawi dunia

Hempaskan resah jiwa tak berperi

Dulu inginku..inginmu

Akulah mataharimu

Tanpaku kau hilang arah

Kini bergulirnya waktu

Mataharimu bukan lagi aku

Mauku tak lagi maumu

Tiada lagi pelukan manja

Cerita mesra keseharian

Sedih ini menggayutiku

Kaukan jauh di sana menapaki impian

Tetapi….

Dadaku sesak

Merintih tak berdaya

Hatiku hancur berkeping…hampa

Gelisahku semakin gila

Khawatir berkecamuk pada sejuta tanya

Bagaimanakah nanti?

Mampukah kau bertahan?

Tanpaku…tanpa kami

Hanya doa terbaik

Untukmu mata air surgaku

Raihlah mimpi dan citamu

 

(yn)

Tinggalkan Komentar