Artikel

Menulis

menulis-menjadi abadi

Peradaban manusia mana pun tidak bisa lepas dari kegiatan tulis-menulis yang dilakukan seiring perjalanan sejarah manusia, baik secara individu, kelompok, maupun bangsa. Proses dari satu titik ke titik lain, dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari sederhana menuju canggih pasti melalui tradisi menulis. Tulisan itu abadi karena merekam kondisi masa lalu dan masa datang, sedangkan lisan itu sementara seiring batas kehidupan manusia.

Seperti pendapat filosof Aristoteles, verba volent scripta manent, yang berarti perkataan itu sementara, tulisan itu abadi. Pernyataan itu menggambarkan sosok Aristoteles yang dikenal sampai sekarang berkat tulisannya yang berisi tentang pemikiran filsafat meski sosok Aristoteles telah meninggal dunia. Pemikirannya seputar ilmu pengetahuan filsafat diikat kuat melalui tulisan hingga saat ini, termasuk saat mendatang akan terpelihara dengan baik.

Demikian juga, pendapat tokoh madzhab, Imam Syafi’i, terkait dengan ilmu pengetahuan yang diikat melalui tulisan, “Ilmu itu seperti kijang dan tulisan yang mengikatnya”. Keberadaan dan kelestarian ilmu pengetahuan hingga menembus batas ruang dan waktu terkait erat dengan tulisan. Tulisan berperan penting sebagai satu agen perubahan demi mendukung kehidupan yang lebih sangkil dan mangkus ke depannya.

Pentingnya tulisan diamini oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang berujar, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”. Aristoteles, Imam Syafi’i, termasuk Pram sendiri, tidak hilang dan terkenal sampai detik ini, berkat tulisan yang diusahakan. Segala apa yang dipikirkan dan diusahakan waktu itu terekam jelas melalui tulisan dan memberikan pengaruh di kemudian hari.

Turunan-turunan ilmu-pengetahuan dengan dasar pemikiran ketiga tokoh di atas, yang dihasilkan sekarang ini pasti terkait dengan tulisan ketiga tokoh tersebut. Pengaruh yang didapat dikarenakan tulisan yang ditinggalkan, bukan dari ketiga tokoh tersebut yang tentunya sudah meninggal dunia. Masyarakat mengenalnya dan sejarah mencatatnya berkat tulisan sebagai warisan keabadian, demikian ujar implisit Pram yang banyak meninggalkan novel sejarah.

Sesederhana apa pun tulisan dipastikan memberi dampak berarti di kemudian hari meski berjarak sekian abad lamanya. Waktu itu kemungkinan tidak diperkirakan bahwa tulisan ketiga tokoh tersebut memberi andil besar bagi peradaban manusia. Sebagaimana masih dari ujaran Pramoedya Ananta Toer, “Menulislah, apapun, jamgan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis, dan tulis, suatu saat pasti berguna”.

Di sisi lain, tulisan hakikatnya bermanfaat besar bagi penulisnya, yaitu melalui kesadaran terhadap realitas yang tumbuh dan berkembang di sekitarnya. Seperti ucapan filosof Albert Camus, “Tulisan, bagaimanapun juga, akan lebih menyadarkan penulisnya terhadap realitas dan arti hidup ini”. Dalam jangka pendek, tulisan memberi manfaat bagi diri pribadi karena bahannya biasanya terdapat di sekitar lingkungan sehingga dibutuhkan kepekaan terhadap lingkungan.

Dalam jangka panjang, tulisan kemungkinan memberi dampak yang berarti sebagaimana lontaran Pram. Tulisan yang menerangkan situasi sekarang ini akan memberikan ketertarikan tertentu saat dibaca di waktu mendatang dengan situasi yang berbeda sama-sekali. Misalnya, orang-orang Belanda yang mencatat situasi Kalimantan Barat di pedalaman masa lalu, menjadi referensi penting saat meneliti Kalimantan Barat dari berbagai sudut.

Dengan demikian, menulis merupakan kerja keabadian, menembus ruang dan waktu dari abad ke abad mendatang meskipun sang penulis sudah berkalang tanah. Menulis merupakan juga warisan berharga tidak hanya kepada anak-cucu, tetapi generasi mendatang sebuah bangsa.

Khairul Fuad
Peneliti Balai Bahasa Kalbar

Tinggalkan Komentar