Karya

“Bebasa”, Konsep Sopan dalam Masyarakat di Riam Panjang

Sudah lama diketahui bahawa bahasa menjadi alat komunikasi antar manusia. Dalam proses komunikasi itu ada bahasa verbal iaitu bahasa yang dinyatakan dengan kata-kata, dan ada bahasa non-verbal iaitu bahasa bukan dengan kata-kata. Bahasa nonverbal ini antara lain bahasa tubuh, mimik dan gesture, dll.

Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga merupakan cara orang untuk menunjukkan diri sebagai seseorang yang beradab. Oleh karena itu, dalam setiap bahasa selalu ada pola tertentu yang digunakan untuk menunjukkan diri mereka sebagai orang yang berbudaya dan tidak berbudaya, sebagai orang yang memiliki sopan santun dan tidak bersopan santun.

Melalui tulisan berikut ini ditampilkan bagaimana konsep bersopan santun dalam masyarakat Melayu di pedalaman Kalimantan. Data yang digunakan dalam tulisan ini diperoleh di Riam Panjang, sebuah kampung Melayu di hulu sungai Kapuas –yakni sungai terpanjang di Indonesia yang melintas dari pantai barat Borneo – hingga ke bagian tengah.

Ada lima bagian yang ditampilkan di sini. Bahagian pertama akan menggambarkan kampung Riam Panjang dan masyarakat Melayu pedalaman. Bahagian ke dua, akan menampilkan gambaran mengenai bentuk-bentuk bahasa yang digunakan masyarakat. Bahagian ke tiga akan menggambarkan konsep bebasa dalam masyarakat Riam Panjang. Bagian ke empat adalah Penutup.

Riam Panjang dan Masyarakat Melayu Pedalaman

Riam Panjang adalah sebuah kampung Melayu yang terdapat di pedalaman Kalimantan Barat, Indonesia. Jarak dari ibu kota provinsi Kalimantan Barat, iaitu kota Pontianak, lebih kurang 600 kilometer. Kampung ini boleh dijangkau dengan menggunakan jalan darat, iaitu Jalan Lintas Selatan yang menghubungkan Pontianak (ibukota Provinsi Kalimantan Barat) –Putussibau (ibukota Kabupaten Kapuas Hulu).

Perjalanan dari Pontianak dapat langsung sampai di kampung ini, setelah memakan masa lebih kurang 18 jam dengan bus. Bus jurusan Pontianak – Putussibau yang setiap hari mengangkut penumpang lalu lalang melalui kampung ini. Selain itu kampung ini juga dapat dicapai dengan angkutan sungai, melalui Sungai Kapuas, Sungai Embau, dan Sungai Pengkadan.Sungai ini merupakan andalan transportasi penduduk setempat jika hendak pergi ke luar kampung, sebelum Jalan Lintas Selatan dapat dipergunakan.

Sejarah kampung bermula dari perumahan satu dua kira-kira lebih 150 tahun yang lalu. Mula-mula rumah dibangun orang-orang dahulu untuk rumah ladang (langkaw uma). Kemudian lama kelamaan jumlah keluarga bertambah, penduduk berkembang biak, lalu membentuk kampung seperti sekarang ini. (Yusriadi, 2005).

Penduduk di Riam Panjang sekarang ini jumlahnya dianggarkan mencapai 1000 jiwa. Jumlah perempuan lebih dari 55 peratus, sedangkan jumlah penduduk lelaki 45 peratus. Penduduk satu kampung ini masih memiliki ikatan kekeluargaan satu dengan yang lain; baik ikatan hubungan darah maupun ikatan hubungan perkahwinan. Orang luar kampung –jumlahnya pululan orang, yang berkahwin dengan orang Riam Panjang biasa terserap dalam masyarakat.

Mereka juga masih memiliki ikatan kekerabatan dengan penduduk di kampung lain, terutama kampung di sekitar mereka. Ikatan itu boleh ditelusuri melalui susur galur keturunan mereka. Penelusuran yang paling mudah dilakukan adalah dengan merujuk pada salasilah kepemilikan kebun “durian tua”. Kebun durian tua maksudnya adalah satu kawasan pohon durian yang banyak dan luasnya di satu bukit di hulu kampung Riam Panjang, yang dimiliki oleh satu keturunan dari berbagai kampung di sekitar Riam Panjang. Penduduk yang berkongsi kepemilikan kebun itu berasal dari satu turunan yang sama, 7 generasi yang lalu.

Penduduk kampung ini 100 peratus beragama Islam. Agama ini sudah menjadi anutan masyarakat sejak lebih tujuh turunan, atau lebih dari 150 tahun lalu. Islam di kampung ini cukup ketara mewarnai kehidupan masyarakat. Sejak lama wanita-wanita menggunakan penutup kepala ketika keluar rumah – terutama untuk kegiatan rasmi. Kampung ini memiliki satu buah masjid dan sebuah surau, dan satu sekolah menengah agama (madrasah tsanawiyah). Kegiatan pengajian ibu-ibu dan anak-anak juga aktif dilakukan.

Pekerjaan penduduk kampung sekarang ini kebanyakannya adalah menoreh getah. Pokok getah ditanam di sekitar kampung mereka. Hampir setiap keluarga memiliki kebun getah, meskipun dalam jumlah yang bervariasi. Ada yang memiliki lebih banyak kebun dan luas, ada juga yang memiliki sedikit saja kebun getahnya. Bahkan ada yang tidak memiliki kebun sama sekali.

Selain berkebun, kebanyakan mereka yang bersawah dan berladang tahunan iaitu satu tahun sekali. Kegiatan berladang dilakukan di sawah dan di lahan kering dengan sistem berpindah-pindah. Ada yang menjadi pedagang, dan sedikit yang menjadi pegawai kerajaan, terutamanya sebagai guru.

Masyarakat masih mengamalkan banyak amalan budaya dan banyak kepercayaan lama yang masíh menjadi anutan. Salah satu budaya yang masih dikekalkan adalah budaya yang berkaitan dengan “bebasa”. Tentang bebasa ini akan digambarkan pada bahagian hadapan.

Bentuk Bahasa di Riam Panjang

Bahasa yang dituturkan di Riam Panjang adalah bahasa Melayu. Bahasa Melayu yang digunakan termasuk dalam dialek Melayu Ulu Kapuas. Adapun bentuk dialek Melayu Ulu Kapuas dapat dilihat dalam Yusriadi (2008).

Gambaran umum tentang pertuturan di Riam Panjang adalah sebagai berikut.
Ada enam fonem vokal dan sembilan belas fonem konsonan. Fonem vokal dalam pertuturan ini adalah /a/, /u/, /i/, /e/, //, /o/. Fonem konsonan pula /p, b, t, d, c, j, k, g, , m, n, , , s, h, , l, w, y/. Terdapat juga geluncuran diftong, iaitu /-ay, -aw, dan -uy/. Tentang persebaran bunyi dapat dilihat dalam Yusriadi (1999, 2007).

Salah satu ciri yang dikesani orang luar tentang pertuturan di sini adalah wujudnya kata /tubah/ yang bermakna sama dengan /nesi/ yang ertinya “tidak ada”. Menurut orang luar, penutur di Riam Panjang lebih sering menggunakan bentuk /tubah/ dibandingkan /nesi/. Sedangkan penutur di kampung-kampung di sekitar, seperti Jongkong cenderung hanya menggunakan /nesi/, walaupun mereka mengerti juga juga bentuk /tubah/ untuk makna “tidak ada”.

Meskipun masyarakat di Riam Panjang sebagiannya berasal dari penutur bahasa dan dialek lain, kesemuanya menggunakan bahasa Melayu Riam Panjang dalam komunikasi sehari-hari. Tentang hal ini sudah disinggung dalam Yusriadi (2005).

Konsep Bebasa

Bebasa dalam bahasa Melayu di Riam Panjang boleh dipahami dalam pengertian yang tentang ‘berbudi bahasa’ dalam masyarakat Melayu umumnya. Seperti disebutkan dalam Mohd. Koharuddin, (2005) masyarakat Melayu mengenal mengenal istilah berbudi bahasa untuk menunjukkan bentuk bertutur yang sopan.
Dalam pengertian masyarakat di Riam Panjang, bebasa berkaitan dengan lakuan berbahasa yang menunjukkan bahawa pemakainya bersopan santun dan menghormati orang yang lebih tua dan menghargai orang yang muda. Bebasa menunjukkan seseorang memiliki bahasa yang baik menurut norma masyarakat.

Untuk menunjukkan bebasa atau tidak bebasa, dapat dilihat melalui dua hal. Pertama, melalui bahasa verbal, iaitu dengan kata-kata. Masyarakat sudah memiliki bentuk pilihan kata yang dapat digunakan untuk menunjukkan sikap bersopan santun pada saat berinteraksi. Pilihan ini digunakan tergantung level generasi dan umur lawan bicara, serta sebagian lagi tergantung jenis kelamin seseorang.

Kedua, bahasa non-verbal, iaitu bebasa dengan sikap, lakuan gaya, atau budi pekerti. Sikap ini tergantung keadaan formal dan tidak formal. Dalam keadaan formal misalnya, saat ada majelis, seseorang yang berjalan di tengah majelis haruslah berjalan dengan perlahan-lahan dalam menjejakkan kakinya –sebaiknya agak menjinjit, sambil membungkukkan badan dan tangan kanan dijulurkan ke depan. Menghentakkan kaki dalam keadaan berjalan seperti berjalan biasa adalah dianggap tidak bebasa, tidak sopan.

Bersalaman dengan orang yang dihormati hendaknya dengan takzim, iaitu dengan cara menghulurkan tangan kanan, sedangkan tangan kiri dikepitkan ke badan menempel ke perut atau ke dada sendiri, sambil menganggukkan kepala. Akan terlihat lebih sopan lagi jika orang yang bersalaman, sewaktu tangan kanannya diajukan, tangan kiri diletakkan di atas kening. Sesetengah keadaan sekarang, terutama untuk lingkungan keluarga, salaman harus menggunakan dua tangan, dan orang yang muda mencium tangan orang yang lebih tua saat bersalaman.

Bermuka manis (senyum) adalah bagian dari sikap bebasa. Sebaliknya, menjulur lidah kepada orang lain adalah tabu, dianggap tidak bebasa. Meludah di depan orang, membuang muka ketika berjabat tangan, buang angin (kentut) dan sendawa di depan orang, juga dianggap tidak bebasa.

Cara bebasa diajarkan orang tua kepada anak-anak mereka, dan juga dikuatkan dengan pelembagaan sosial masyarakat. Orang lain, siapapun, dibolehkan menegur seseorang yang tidak bersopan. Masyarakat juga memiliki hukuman sosial terhadap orang yang tidak bersopan. Untuk jenis bahasa non-verbal, pelakunya dianggap ‘gila basa’. Orang yang dianggap ’gila basa’ dipandang rendah dalam masyarakat. Pandangan rendah ini adalah sanksi sosial bagi mereka.

Orang yang tidak bebasa secara verbal juga dikenakan sanksi sosial, dianggap kurang ajar dan tidak mengerti sopan santun. Tetapi lebih dari sanksi sosial, mereka juga mendapat sanksi khusus yang disebut ‘busung’. Busung dalam pengertian masyarakat adalah akibat buruk yang timbul dari pelanggaran norma. Bentuk hukumannya tidak konkrit. Pelanggarnya mungkin terkena perut kembung, mungkin sakit-sakitan, mungkin hidupnya tidak tenang, mungkin tidak akan dapat menyimpan harta, dll. Semuanya kemungkinan buruk yang muncul boleh dikaitkan dengan busung itu.

Oleh sebab bentuknya tidak konkrit seumpama itu, setiap kejadian aneh selalu mudah dikait-kaitkan dengan kelakukan tidak bebasa itu. Ini juga yang menyebabkan orang merasa takut dan berusaha menghindari daripada melakukan pelanggaran itu. Orang tua juga berusaha supaya anak-anak mereka mematuhi budaya yang ada, agar tidak tertimpa busung, agar dapat ‘idup nyaman’ (hidup bahagia dan tentram). Keadaan inilah yang menyebabkan bentuk bebasa tetap bertahan dan penting sampai hari ini pada masyarakat Melayu di Riam Panjang.

Dalam konteks bebasa secara verbal, ada tiga bagian penting. Pertama, intonasi, kedua dalam soal penyapaan, dan ketiga dalam soal pilihan kata.

Pertama: Intonasi

Intonasi berkaitan dengan pola perubahan nada yang dihasilkan pembicara pada waktu mengucapkan ujaran atau bagian-bagiannya.
Dalam bertutur, masyarakat penutur bahasa Melayu di Riam Panjang lebih menyukai nada yang rendah dan datar. Sebaliknya mereka tidak menyukai nada yang tinggi. Nada tinggi mengisyaratkan kekasaran dan ketidaksopanan. Nada tinggi digunakan jika penutur sedang marah atau kesal.
Masyarakat menganggap penggunaan nada yang tinggi dalam pertuturan sebagai bentuk yang tidak bebasa. Oleh karena itu orang yang bebasa menghindari penggunaan nada tinggi, dan sebaliknya memilih menggunakan nada rendah.

Kedua: Bebasa dalam Sapaan dan Rujukan

Bentuk sapaan dan rujukan dalam hal ini adalah merujuk kepada kata tertentu yang digunakan untuk menyapa orang lain dalam proses interaksi antar masyarakat. Bentuk sapaan ini boleh juga menjadi bentuk rujukan untuk orang tertentu. Orang Riam Panjang mengenal konsep ini dengan Tingkau.

Bentuk Tingkau sangat penting dalam masyarakat Riam Panjang. Seperti juga umum dalam budaya orang Timur, seorang yang menyapa dengan nama tanpa diikuti bentuk sapaan yang benar, dianggap tidak sopan. Orang seperti itu dianggap sebagai orang yang tidak berbuda bahasa, tidak mengenal adat sopan santun.

Malah sejak awal, pada peringkat kanak-kanak, seorang sudah diingatkan soal ‘busung’, iaitu akibat berupa bala yang menimpa orang yang melanggar, jika memanggil orang yang lebih tua daripadanya tanpa embel-embel. Busung dalam masyarakat di Riam Panjang bermakna akan ada balasan buruk seperti karma. Karena itu, hal tersebut sangat tabu dilakukan.

Sapaan langsung ini juga dapat menyinggung perasaan orang. Seseorang yang lebih tua disapa tanpa penggunaan kata sapaan yang seharusnya, mungkin akan merasa tidak dihargai dan dihormati. Orang yang merasa dicabar kehormatannya tanpa sebab, boleh marah, dan bahkan boleh menampar orang yang mencabarnya. Tamparan seumpama ini boleh dimaklumi dari sisi hukum adat setempat.

Dalam masyarakat di Riam Panjang ada banyak bentuk tingkau [diucapkan: tiŋkaw]. Untuk lebih jelas, berikut ini akan dilihat dari tiga bentuk sapaan berdasarkan kata ganti orang pertama, iaitu tingkau untuk diri sendiri –iaitu membahasakan diri sendiri dan tingkau untuk orang lain –iaitu membahasakan orang lain.

Ada tiga bentuk untuk orang pertama, iaitu:

aku untuk orang pertama tunggal
kita untuk orang pertama jamak, orang kedua dilibatkan
kami untuk orang pertama jamak, orang kedua tidak dilibatkan.

/aku/ dalam masyarakat Riam Panjang bermakna netral. Bentuk /aku/ dipakai dalam semua keadaan dan pada semua level generasi, tanpa ada kesan positif atau pun negatif.
Sedangkan bentuk /kita/ dan /kami/, sekalipun cukup terang maknanya dari segi penglibatan lawan bicara, namun, dalam konteksnya, boleh ditukar ganti, dan memiliki makna sosial yang luas berdasarkan konteksnya.

Penggunaan /kita/, sering kali menunjukkan keakraban, untuk memasukkan orang kedua dalam situasi yang sama seperti yang dirasakannya. Misalnya dalam mesyuarat menentukan acara pernikahan yang melibatkan dua anggota keluarga, orang Riam Panjang dan orang Pontianak, seseorang mengatakan:

/atiʔ talah upa kita biasa tuʔ mih/
jika dapat serupa kita biasa ini PART(=lah)

Orang yang mengucapkan itu membayangkan bahawa orang yang mendengar percakapannya adalah orang yang sama dengannya, dari segi kebiasaan, sekalipun generalisasi seumpama itu sebenarnya sukar dicari bentuknya. Bagaimana “yang biasa” dari sudut pandang orang Pontianak sama seperti dia yang berasal dari Riam Panjang? Tetapi, orang dapat memahami percakapan itu dengan menganggap apa yang dikehendaki penutur adalah apa yang biasa bagi penutur itu sendiri.
Akan berbeza kesannya jika dalam mesyuarat itu orang tersebut mengatakan:

/atiʔ talah upa kami biasa tuʔ mih/
jika dapat serupa kami biasa ini PART(=lah)

Sekalipun, dalam konteks membicarakan adat perkawinan ini tidak ada bedanya antara /kami/ dan /kita/, namun, orang yang mendengar merasakan perbedaan dari segi penglibatan dan keakraban. Kami langsung menunjukkan bahawa penuturnya menghendaki tetap ada batas di antara dua keluarga itu, sekalipun, sebenarnya memang ada batas.

Adapun bentuk tingkau untuk orang kedua yang digunakan dalam masyarakat Riam Panjang, iatu:

kulaʔ untuk orang kedua tunggal, ‘kamu’.
ikaw untuk orang kedua tunggal, kasar, ‘kamu’.
nuan untuk orang kedua tunggal, halus, ‘kamu’.
diƔiʔ untuk orang kedua, halus, ‘kamu’.
kian untuk orang kedua jamak, ‘kalian’.
kitaʔ untuk orang kedua jamak, ‘kalian’.

Penggunaan bentuk /kulaʔ/ sebagai bentuk yang netral untuk orang kedua tunggal, mengenal batas usia. /kulaʔ/ akan bermakna netral jika digunakan oleh orang tua kepada yang muda usianya. Tetapi, akan bermakna kasar dan tidak sopan dan tidak bebasa, jika digunakan oleh yang muda kepada yang tua.

Bentuk /ikaw/ yang berarti “kamu” merupakan bentuk kasar, tanpa mengenal usia. Biasanya orang yang menggunakan bentuk ini karena orang tersebut marah atau tidak senang. Sebaliknya, bentuk /nuan/ digunakan sebagai bentuk halus dan sopan. Seseorang yang lebih muda mestilah menggunakan bentuk /nuan/ jika ingin menyapa orang yang lebih tua. Orang yang lebih tua kadang juga menggunakan bentuk /nuan/, atau bentuk /diƔiʔ/, untuk menyapa yang lebih muda bagi menunjukkan kesopanan berbahasa.

/diƔiʔ kaʔ kƏ mona/
Kamu hendak ke mana?

Bentuk /kian/ ‘kalian’ adalah bentuk sapaan untuk orang kedua jamak. Bentuk ini dianggap netral. Untuk menunjukkan lebih sopan, seseorang menambahkan kata /kian semua/. Sedangkan bentuk /kitaʔ/ dapat digunakan pada tempat yang sama dengan bentuk /kian/, namun membawa pengertian yang berbeda. /kitaʔ/ bermakna kalian, tetapi bentuk yang tidak sopan.

Termasuk dalam tingkau kepada orang lain adalah rujukan untuk orang ketiga. Dalam masyarakat Riam Panjang, ada beberapa bentuk rujukan untuk orang ketiga untuk memperlihatkan orang kesopanan.

ia untuk orang ketiga tunggal, netral
sidaʔ untuk orang ketiga jamak, netral
sanuʔ untuk orang ketiga tunggal, halus, belum dikenal
sntua untuk orang ketiga tunggal, halus sudah agak dikenal
laɲuk untuk orang ketiga tunggal, halus, berkaitan dengan magis
samiʔ untuk orang ketiga tunggal, halus
uƔaŋ untuk orang ketiga, kasar

Bentuk /ia/ adalah bentuk yang netral, maksudnya tidak membawa kesan kasar atau halus. /ia/ boleh menjadi kata pengganti sapaan (rujukan) untuk siapapun tanpa mengenal lapis umur atau kekerabatan. Jadi dalam konteks berbahasa, penggunaan bentuk ini dianggap cukup “bebasa” juga.

Sedangkan bentuk /sentua/ dan /sanuʔ/ bererti ‘dia’ digunakan untuk menyebut orang ketiga untuk kepentingan bebasa. /sentua/ membawa kesan orang ketiga itu dikenal oleh penutur dan orang yang diajak bicara. Sedangkan /sanuʔ/ membawa kesan orang ketiga itu tidak dikenal oleh keduanya.

Agak sedikit berbeda dengan /laɲuk/ dan /samiʔ/. Meskipun kedua bentuk ganti ini juga merujuk kepada orang ketiga tunggal, namun, ada makna yang lain. Penggunaannya seperti terlihat dalam contoh berikut. Seorang ibu yang minta kepada anaknya agar menyisakan lauk untuk anaknya yang lain yang sedang dalam perjalanan. Sang ibu tidak akan menyebutkan nama anaknya yang dalam perjalanan itu, tetapi dia akan menggunakan kata /laɲuk/. /laɲuk/ ini sebenarnya bererti “ular”. Sang ibu tidak menyebutkan nama anaknya yang sedang dalam perjalanan dikaitkan dengan makanan, karena tidak mau anaknya kempunan. Sebab dalam kepercayaan masyarakat di Riam Panjang menyebut nama orang yang sedang dalam perjalanan dikaitkan dengan makanan akan menyebabkan yang disebutkan nama itu mengalami kempunan. Dan, biasanya yang sering menjadi perantara nahas akibat kempunan dalam masyarakat di sini adalah ular. Itulah agaknya yang menyebabkan masyarakat lebih suka menggantikan nama orang yang sedang dalam perjalanan dengan nama ular, agar ular tidak mengganggunya.

Sedangkan penggunaan /samiʔ/ agak terbatas untuk bergurau saja. Misalnya, jika ada dua orang sedang bicara, lalu tiba-tiba ada orang ketiga yang menyambung pembicaraan itu dari balik dinding atau dari balik pohon, tak nampak, maka salah satu dari kedua orang yang bicara tadi boleh bertanya pada temannya:

/oy, sopa samiʔ yaʔ/
Oi, siapa dia itu?

Sebenarnya juga boleh menggunakan bentuk:

/sapa nsia yaʔ/
Siapa manusia itu?

Namun bentuk ini (nsia) dianggap agak kurang sopan.

Bentuk /samiʔ/ banyak dijumpai dalam sastra lisan. Misalnya dalam cerita pelanduk dikisahkan, pelanduk bertanya pada rusa, siapa yang memakan hasil ikan mereka.

/sopa samiʔ yang makan ikan kita/
Siapa dia yang memakan ikan kita

/antu paɲaŋ/
Hantu panjang

Bentuk /sidaʔ/ yang juga boleh bererti ‘mereka’ adalah bentuk netral. Boleh juga digunakan bentuk lain iaitu /uƔaŋ/ ‘orang’ untuk menunjuk kepada bilangan ramai, yang belum dikenal. Namun penggunaan orang lebih banyak ditentukan oleh konteks situasi yang ada.

Sapaan dalam Lingkungan Kekerabatan

Selain bentuk-bentuk di atas, terutama untuk bentuk orang pertama, kedua dan ketiga, ada lagi bentuk sapaan khusus untuk bebasa kepada kerabat. Kerabat yang dimaksud adalah orang yang masih dalam susunan salasilah keluarga. Jenjang kekerabatan di Riam Panjang dapat dilihat dari rajah berikut ini.

Generasi Atas IV Muyang Muyang Muyang Muyang
Generasi Atas III iniʔ ayi ayi iniʔ

Generasi Atas II ayah umaʔ + merena (Paman)
Generasi I A + B,C menyadiʔ
Generasi II anak 1 + anak 2 + anak 3 + anak 4 +
Generasi III ucuʔ ucuʔ ucuʔ ucuʔ ucuʔ ucuv ucuʔ
Generasi IV iyut iyut iyut iyut iyut iyut iyut
Dalam rajah ini, generasi pertama di sini sebagai titik tolak adalah A. A memiliki anak, cucu dan iyut, ke bawah. A juga memiliki saudara (menyadiʔ), iaitu B dan C; dan B dan C memiliki keturunan yang sama dengan A, ada anak, cucu dan iyut. Hubungan A, B, C adalah sejajar, satu generasi. Hubungan A dan anak B dan C, adalah hubungan lintas generasi; iaitu hubungan antar paman (mƔena) dan kemenakan (anak menyadiʔ). Hubungan antar anak A dan anak B dan C adalah hubungan satu generasi, kedudukannya adalah sepupu (sanak tua).

Hubungan antara A dan cucu B dan C adalah cucu saudara (ucuʔ menyadiʔ). Kedudukan cucu A, B dan C adalah satu generasi, dan mereka memiliki hubungan sepupu dua kali atau (sanak iniʔ).

Hubungan antara A dan iyut B dan C adalah anaknya cucu saudara (iyut menyadiʔ). Kedudukan iyut A, B dan C adalah satu generasi, dan mereka memiliki hubungan sepupu tiga kali atau sanak puyang. Begitulah seterusnya pola hubungan kerabat dalam masyarakat di Riam Panjang. Jadi, perkawinan antara satu generasi adalah perkawinan yang dianjurkan karena sesuai dengan sapaan. Sedangkan perkawinan antar generasi dihindari sebab dapat menyebabkan salah sapaan atau salah tingkau.

Bahagian selanjutnya akan membahas bentuk sapaan yang wujud dalam lingkungan keluarga di Riam Panjang.

Bentuk sapaan dalam lingkungan keluarga tertakluk pada peringkat kedudukan seseorang dalam keluarga. Kedudukan ini tergambar berikut ini:

I Anak Tertua
II Anak Tengah
III Anak Bungsu

Anak Tertua

Yang tua yang dihormati. Sebagai bentuk penghormatan itu anak yang tertua dalam sesebuh keluarga akan disapa dengan sapaan: uwa atau yang paling tua. uwa boleh digunakan untuk lelaki dan boleh digunakan untuk perempuan. Yang muda –terutama adik-adiknya memang diharuskan memanggilnya uwa, karena jika tidak akan kualat; sedangkan orang di luar jalur keluarga itu dapat memanggilnya uwa sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan. Jika seseorang yang disapa uwa sudah memiliki kemenakan, maka kemenakannya memanggilnya dengan sebutan pak uwa atau mak uwa, lalu cucu dari kemenakannya akan memanggilnya [ayi uwa] atau [iniʔ uwa].

Selain sapaan uwa, ada juga sapaan lung [luŋ] untuk anak yang tertua. Namun, sapaan lung agak jarang digunakan jika dibandingkan uwa. Selain itu, dalam beberapa contoh sapaan lung juga digunakan untuk anak tertua dari jenis kelamin. Jadi jika anak nomor pertama lelaki dan disapa uwa, anak nomor kedua jika perempuan boleh disapaan lung untuk menunjukkan bahawa dia adalah anak perempuan tertua dalam keluarga itu. Begitu juga sebaliknya, jika dalam sebuah keluarga anak yang tertua perempuan –dia disapa uwa, dan kemudian anak kedua, adalah lelaki, maka anak lelaki itu boleh disapa lung, selain tentu saja anak kedua ini dapat disapa mengikut kedudukan dia sebagai anak tengah.

Anak Bungsu

Anak Bungsu adalah anak yang paling akhir dari adik beradik dalam sesebuah kekeluarga. Dalam masyarakat di Riam Panjang, anak bungsu mendapat penghormatan dan disayangi. Orang menyebutnya dimanja. Oleh sebab itu dalam masyarakat, anak bungsu memiliki sapaan khusus.

Uju Sapaan untuk anak lelaki yang paling muda di antara saudaranya, atau saudara lelaki terakhir dalam sesebuah keluarga, atau lelaki bungsu.

Usu Sapaan untuk anak perempuan yang paling muda di antara saudaranya. Usu ini memiliki variasi iaitu bunsu, icu (palatalisasi bunyi s sehingga wujud sebagai c).

Jika kebanyakan dalam keluarga sapaan ini dirujuk pada sapaan yang muda kepada yang tua, dalam konteks uju dan usu, sapaan juga lazim dipakai oleh orang tua dan saudara-saudara mereka. Sapaan uju dan usu boleh mengganti nama seseorang. Dan sering kali sapaan ini dikekalkan dalam keluarga.

Pada lapis kedua, seperti juga untuk saudara tua, seseorang akan disapa dengan pak uju [paʔ uju] atau mak uju [maʔ usu], lalu pada lapisan berikutnya seseorang disapa dengan sebutan ayi uju [ayi uju] atau inik uju [iniʔ uju].

Anak Tengah

Berbeda dengan anak tertua dan anak paling muda, anak yang tengah memiliki sapaan yang pelbagai. Hal ini kiranya disebabkan kenyataan bahawa dalam masyarakat di Riam Panjang jumlah anak dalam keluarga tidak teratur bilangannya. Ada yang banyak, hingga mencapai 10 orang, ada juga yang sedikit, hanya satu dua orang sahaja.

Agar setiap anak dalam keluarga mendapat sapaan untuk menunjukkan bebasa, ada beberapa sapaan untuk anak yang tengah ini.

Ŋah Sapaan untuk anak yang tengah –di antara yang paling tua dan yang paling muda. Ngah ini boleh digunakan untuk perempuan dan boleh juga digunakan untuk lelaki.
muʔ Sapaan yang bererti ‘kakak’ untuk saudara perempuan
aba Sapaan yang bererti ‘abang’ untuk saudara lelaki
ciʔ Sapaan untuk saudara lelaki dan perempuan
Iyak Sapaan untuk saudara lelaki dan perempuan yang badannya agak kecil
aɲaŋ Sapaan untuk saudara lelaki yang memiliki postur yang tinggi
ulak Sapaan untuk saudara lelaki dan perempuan
utih Sapaan untuk saudara lelaki dan perempuan berdasarkan warna kulit yang putih
itam Sapaan untuk saudara lelaki dan perempuan berdasarkan warna kulit yang hitam

Bentuk-bentuk sapaan untuk anak tengah ini, dipilih dan digunakan berdasarkan suka atau tidak suka orang yang disapa atau orang yang menyapa. Maksudnya, dalam posisi seseorang sebagai anak ke-2 dari 5 bersaudara misalnya, dia boleh disapa aba, boleh juga disapa anyang, boleh itam, dll. Umumnya, bentuk penyapaan ini dibiasakan oleh orang tua, atau lingkungan keluarga yang bersangkutan, mengikut kepatutannya.

Kedudukan sapaan untuk anak yang tengah berbeda dengan sapaan untuk saudara yang bungsu. Untuk saudara yang bungsu, sapaan biasanya digunakan oleh orang tua dan saudara tua mereka kepada anak tersebut. Tetapi pada saudara tengah sapaan ini berlaku untuk level kerabat yang berada pada satu jenjang, satu lapis generasi, seperti antara sepupu, sepupu dua kali, dan seterusnya. Orang tua mereka jarang sekali menggunakan sapaan seperti ini. Orang tua selalunya menggunakan nama biasa untuk menyapa mereka.

Pada generasi yang berbeda, generasi lapis bawah: misalnya pada level kemenakan, seseorang akan disapa dengan tambahan pak untuk lelaki, dan mak untuk perempuan. Sedangkan untuk generasi di atasnya lagi, ditambahkan kata ayi untuk lelaki yang bererti ‘kakek’, dan inik untuk perempuan yang bererti ‘nenek’.

Anak Tunggal

Dalam keluarga yang anaknya hanya ada anak tunggal –tidak memiliki saudara, seseorang akan disapa dengan sapaan ungal [uŋal]. Sapaan ungal boleh mengganti nama diri seperti pada uju dan usu, dan digunakan oleh semua orang, tidak kira generasi yang satu level, tetapi juga oleh orang yang berbeda level generasi. Misalnya orang yang selevel dengan generasi orang tuanya biasa juga memanggil seseorang dengan ungal.

Generasi di bawahnya yang terbilang dekat secara kekerabatan –misalnya anak kemenakan, memanggilnya dengan tambahan pak atau mak. Sedangkan generasi lain yang dikira agak jauh boleh memanggilnya dengan ungal sahaja.

Penggunaan sapaan seperti ini dianggap bebasa, dan biasa dipakai di tengah masyarakat Riam Panjang. Malah menunjukkan kesan kasih sayang, dibandingkan menyapanya dengan menyebut nama langsung.
Orang Tua

Ada beberapa bentuk sapaan yang dipakai dalam keluarga Melayu di Riam Panjang untuk orang tua mereka.

apaʔ (apak) Bapak, sapaan untuk orang tua lelaki
ayah
ama
uwaʔ

umaʔ (umak) Emak, sapaan untuk orang tua perempuan
umay

Dari banyak sapaan itu, sapaan apak dan umak adalah sapaan yang paling banyak dijumpai digunakan dalam keluarga sekarang ini. Sapaan ama hanya dijumpai pada generasi yang kira-kira berusia 50 tahun ke atas. Sapaan ayah, masih dijumpai sekarang ini tetapi sangat terbatas, masyarakat menganggap penggunaan ini dipakai keluarga yang dianggap kurang maju. Sapaan uwak digunakan satu dua keluarga saja. Keluarga yang menggunakan sapaan uwak, salah satu pasangannya berasal dari daerah Kapuas –misalnya Selimbau.

Sapaan umay, seperti juga ama dan ayah, juga sudah jarang digunakan oleh keluarga baru. Sama seperti penggunaan sapaan ama dan ayah, penggunaan sapaan umay untuk seorang ibu memberi kesan agak tertinggal.

Dalam masyarakat Riam Panjang, seperti juga pada masyarakat Melayu secara keseluruhan, tidak ada anak yang menyapa orang tuanya dengan menyebutkan namanya. Menyapa orang tua dengan menyebutkan namanya dianggap tidak bebasa. Hatta, menyebut nama orang tua saja dalam masyarakat Riam Panjang beberapa waktu yang lalu dianggap sebagai sesuatu yang pemali, dan dapat menimbulkan busung. Karena itu, seorang anak sangat takut menyebut nama bapak atau emaknya.

Ngaran

Orang yang mendapat nama yang sama dalam masyarakat Riam Panjang memiliki kedudukan yang istimewa. Mereka seperti memiliki ikatan bersaudara. Dalam masyarakat, mereka disebut bengaran /bƏŋaƔan/. Satu sama lain di antara mereka memanggil yang lain dengan ngaran [ŋaƔan]/.

Sebagai misalnya, seorang bernama Zainudin yang disapa Udin, dan ada seorang lagi bernama Samsudin yang juga disapa Udin. Zainudin Udin akan menyapa Samsudin Udin dengan ngaran, dan begitu juga sebaliknya. Orang juga boleh merujuk kepada salah satu kedua dengan /ngaran/ juga. Umpamanya orang bertanya pada Zainudin Udin:

/din ŋaƔan kulaʔ m:ona/
Din ‘ngaran’ kamu di mana?

Zainudin akan tahu bahawa yang ditanyakan orang kepadanya adalah Samsudin Udin. Zainudin Udin akan merasa janggal dan tidak bebasa jika dia menyapa ngaran-nya dengan menyebut nama langsung. Orang lain yang mendengar pun juga akan menilai Zainudin tidak sopan.

Pentingnya sapaan dalam masyarakat di Riam Panjang juga terlihat dari cara mereka dalam menentukan perjodohan anak mereka. Penentuan jodoh harus mempertimbangan konsep penyapaan ini. Dalam konteks ini bentuk penyapaan akan menentukan apakah sesebuah perkawinan diterima dengan baik atau ditolak. Dalam hal ini mereka menyebutnya salah tingkau [salah tiŋkaw] ertinya ‘salah sapaan’. Dan ini juga termasuk tidak bebasa.

Sebagai contoh, seseorang yang berada pada level kedua kekerabatan dilarang menikahi seseorang yang berada pada level ketiga. Seorang boleh menikah dengan sepupu, sepupu dua kali, sepupu tiga kali, dan seterusnya pada level yang tetap sama. Merujuk pada silasilah keturunan, seseorang tidak boleh berkahwin melintasi level generasi.

Seorang yang kawin dengan anak saudara, anak sepupu, anak sepupu dua kali, anak sepupu tiga kali, adalah dilarang. Kawin dengan anak saudara dilarang sama sekali. Sedangkan kawin dengan anak sepupu masih dapat dilakukan dengan membayar pampasan adat. Adat itu disebut adat salah tingkau.

Salah tingkau di sini terjadi ketika seorang lelaki berkahwin dengan seorang perempuan yang secara adat kesopanan seharusnya menyapanya ‘pak’, atau seorang perempuan yang berkahwin dengan seorang yang secara adat seharusnya menyapanya ‘mak’. Apalagi jika sapaan mereka sudah mencercah peringkat kakek – cucu. [ayi– ucuʔ].

Tetapi sedapat mungkin masyarakat menghindari perkawinan salah tingkau ini karena menurut kepercayaan, perkahwinan seperti ini tidak baik dan mendatangkan pemali. Mereka percaya akan banyak hal buruk yang terjadi dalam kehidupan mereka jika menikah dengan orang yang selevel dengan orang tua mereka atau dengan anak mereka.

Yang pasti perkawinan antar generasi akan menjejaskan salasilah mereka, atau setidaknya membuat salasilah dan sistem kekerabatan yang kemas menjadi kacau. Lihat saja misalnya ketika seseorang lelaki dari generasi kedua, menikah dengan seorang perempuan generasi ketiga (level kemenakan), anak hasil perkahwinan mereka akan bingung, bagaimana harus menyapa satu generasi di atas orang tua mereka. Jika ikut sapaan sebelah bapak, mereka seharusnya menyapa orang pada level itu dengan /ayi/, sedangkan jika mengikuti dari sebelah ibu mereka seharusnya menyapa moyang. Kebingungan seperti inilah yang ingin dihindari dari perkawinan salah tingkau itu.

Ketiga: Pilihan Kata

Bentuk bebasa juga berlaku dalam bagaimana masyarakat memilih kata-kata yang digunakan. Dalam masyarakat Riam Panjang dikenal dengan istilah ’jantuh ingka’ atau ’perkataan bertingkat’.

Jantuh ingka’ seperti disebutkan dalam Yusriadi (2007) memuat beberapa fungsi—fungsi sebagai sopan santun. Orang yang dapat menggunakan jantuh ingka’ dalam percakapan dianggap sebagai orang yang sopan. Sedangkan mereka yang tidak dapat menggunakan bentuknya, tingkat kesopanan agak kurang. Karena itu ada nilai ’kurang bebasa’.
Kesopanan melalui jantuh ingka’ diperlukan dalam konteks formal. Misalnya saat acara pinangan (melamar). Pada saat seperti itu juru bicara dalam majelis, baik juru bicara lelaki mahupun juru bicara pihak perempuan harus dapat menerapkan gaya bebasa ini.

Berikut ini contoh penggunaan jantuh ingka’ untuk tujuan bebasa saat acara melamar.

//anak kami tuʔ kami s∂Ɣahkan k∂ k∂luaƔga kian. mintaʔ ajaƔ tontu, mintaʔ soŋka padah, mintaʔ tunaʔ titin….//.

/ soŋka padah/ adalah bentuk ’jantuh ingka’’. /soŋka/ dan /padah/ sebenarnya memiliki pengertian yang sama, iaitu ”tegur”, ”diingatkan’, ”diberitahu”. Begitu juga dengan /tunaʔ titin/, kata ini memiliki makna yang kurang lebih sama maksudnya ”dibimbing”.

Sesungguhnya salah satu dari kata ini sebenarnya bisa dipakai tanpa diikuti oleh kata yang lain. Maksudnya, kata /soŋka/ dapat dipakai tanpa diikuti kata /padah/, /tunaʔ/ dapat digunakan tanpa diikuti kata /titin/. Tetapi, dalam konteks bebasa, penggunaan bentuk ’jantuh ingka’ ini penting untuk menunjukkan pihak yang menuturkan kata itu sebagai pihak yang mengerti sopan santun, tidak sombong, rendah hati.

Penutup

Data yang diperlihatkan di atas menunjukkan konsep bebasa yang penting dalam masyarakat. Penting karena bentuk ini berguna untuk menunjukkan kesantunan berbahasa seseorang. Masyarakat penutur bahasa Melayu di Riam Panjang memiliki konsep khusus tentang kesopanan berbahasa yang mereka sebut ‘bebasa’. Seseorang yang dikatakan sebagai seseorang yang bebasa – berbudi bahasa, adalah orang yang dapat menggunakan bentuk ini dengan tepat dalam konteks sosial penggunaannya.

Bentuk yang paling ketara untuk melihat kesopanan seseorang dilihat dari bentuk kata atau pilihan kata – baik dari sisi leksikal, maupun semantik – yakni hal yang berhubungan dengan makna kata. Ada kata-kata tertentu yang boleh digunakan, ada kata-kata tertentu yang menunjukkan kekasaran serta ketidakberadaban, dan sebaliknya kelembutan dan keberadaban.

Selain kata, bentuk sopan tidak sopan terkait dengan penggunaan nada. Nada yang lembut dan sederhana mencerminkan kesopanan, sedangkan nada yang keras dan tinggi mencerminkan kekasaran. Jadi bagaimanapun unsur tekanan juga turut menentukan bentuk berbahasa dalam masyarakat.

Selanjutnya, hal lain yang penting dalam menentukan bagaimana bentuk kata digunakaan dalam masyarakat adalah: Pertama, bentuk sapaan ditentukan level generasi. Sapaan untuk generasi pertama, kedua, dan ketiga berbeda-beda. Sedangkan sapaan dalam masing-masing generasi itu (sesama mereka) cenderung ditentukan oleh usia. Orang yang berusia muda harus menghormati yang tua melalui sapaan mereka. Tentu saja tidak ada larang jika generasi yang tua mau menggunakan bentuk tertentu untuk menyapa yang lebih mudah.

Kedua, jenis kelamin juga menentukan bentuk sapaan ini untuk sesetengah keadaan: misalnya lelaki bungsu dengan perempuan bungsu berbeda sapaannya, ada juga saudara tengah lelaki yang berbeda sapaannya. Tetapi, secara umum tidak terdapat perbedaan berdasarkan jenis kelamin dalam bentuk bebasa ini.

Bentuk sapaan dalam masyarakat tidak mengenal domen formal dan tidak formal seperti sapaan dalam bahasa Melayu standar. Jadi bentuk formal yang menunjukkan penghormatan dan tidak formal yang menyatakan keakraban, tidak menentukan bentuk sapaan digunakan di sini. Semua bentuk sapaan digunakan untuk menunjukkan rasa hormat dan sopan santun, bagi maksud bebasa.

Penggunaan bentuk bebasa juga berkaitan dengan konstruksi kata. Misalnya dalam bentuk jantuh ingka’, konstruksi kata dibangun dari kata yang memiliki pengerti yang sama. Dari sisi ini kita melihat bahawa penggunaan bentuk ini mencerminksan kelewahan kata. Namun dari sisi masyarakat, isu kelewahan justru mencerminkan kelebihan secara sosial.

Bentuk bebasa ini boleh dianggap sebagai keragaman budaya yang terdapat dalam masyarakat Melayu di pedalaman ini. Keragaman budaya ini menunjukkan bahawa budaya penghormatan begitu penting diperhatikan dan dilakukan. Bentuk-bentuk yang ada dipertahankan masyarakat karena mereka menganggap sangat penting untuk bersikap sopan kepada yang lebih tua atau kepada orang yang dituakan.

Bentuk penghormatan terus mereka dijaga. Mereka menjaganya dengan strategi budaya, bahawa orang yang melanggar akan mendapat balasannya dengan ‘busung’. Mereka juga menjaga dengan memberikan batas tertentu dalam perkahwinan, sehingga perkawinan itu tidak menyebabkan kesalahan berbahasa, khususnya /salah tikaw/.

Nurul Hadi. 2006. Akulturasi bahasa Melayu dialek Sambas, Pontianak, Sintang dan Ketapang dalam membentuk bahasa Melayu Kalimantan Barat. Jurnal Bahasa Bil 10 Julai – Disember 2006: 56 – 70.

Abdul Samad, dkk. 2004. Sosiolinguistik Melayu Ulu Kapuas. Jakarta: Departemen Pendidikan.

Collins, James T. 1992. Bahasa Melayu di Pulau Tioman. Jurnal Dewan Bahasa.

Nieuwenhuis, A. 1994. Perjalanan ke Pedalaman Kalimantan Barat. Terj. Jakarta: Gramedia.

Teo Kok Seong. 1998. Kelewahan dalam bahasa Melayu. Jurnal Dewan Bahasa 42: 833-846.

Wahyu Andika 2006. Iban Sungai Buah. Dalam Yusriadi, dkk (Ed). Kelompok Ibanik di Kalimantan Barat. Pontianak: STAIN Pontianak Press.

Wilkinson. 1959. Kamus Bahasa Melayu. 1035

Yusriadi. 1999. Dialek Melayu Ulu Kapuas. Tesis MA Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi.

Yusriadi. 2006. Bahasa dan Identiti di Riam Panjang, Kalimantan, Indonesia. Disertasi ATMA, UKM

Yusriadi dan Hermansyah, 2003. Orang Embau. Potret Masyarakat Pedalaman Kalimantan. Pontianak: STAIN Pontianak Press.

Yusriadi dan Haitami 2001. Dayak Islam di Kalimantan Barat, Fenomena di Gerbang Abad ke-20. Pontianak: STAIN Pontianak.

Yusriadi, dkk. 2006. Etnisitas di Kalimantan Barat. Pontianak: STAIN Pontianak Press.

1 Komentar

Tinggalkan Komentar