Ensiklopedia Tokoh

Agus Muharso Thaufik

Agus Muharso Thaufik lahir di Pontianak pada 17 Agustus 1957. Nama lengkap pengarang ini adalah Drs. Pangeran Gusti Agus Muharso Thaufik Mahmud Ibrahim, M.Si. Nama Gusti yang melekat pada namanya menunjukkan bahwa ia seorang keturunan bangsawan di Kalimantan Barat. Ia merupakan cucu dari Ratu Mas Encik Qomariah, Permaisuri Kerajaan Amantubillah Mempawah. Gelar akademis yang menempel pada namanya menandakan bahwa ia sastrawan yang memiliki sisi pendidikan yang tinggi.

Dalam bidang kepenulisan, Agus Muharso memiliki banyak nama samaran, yaitu Dede Purnama, Agusta Lazuardi, Sri Dinar, Gusharfix, dan Ustad Nurdin Salam, termasuk juga nama samaran di internet: Patron dan Mawar Berduri. Pengarang ini pertama menulis cerpen berjudul ole-ole dan puisi berjudul Menetaslah Menetas Duniaku, kemudian ia menulis cerpen lagi sekitar 1974 dengan judul Kalau Goyang Pinggul Berganti dengan Goyang Kelewang. Cerpen ini menyabet juara ketiga pada lomba yang diadakan oleh Kanwil Depdikbud (sekarang: Diknas) Kalimantan Barat ketika itu. Semenjak itu, ia sangat aktif menulis, baik puisi maupun cerpen. Ini terbukti dengan sederet penghargaan yang diperolehnya. Pada 1975, puisinya yang berjudul Quraisy-Quraisy Modern menjadi puisi terbaik dalam lomba mengarang acara HUT SMA Santo Paulus.

Cerpennya Ole-ole berkisah tentang seorang anak yang tengah mencari jati diri. Hal ini dapat dipahami karena cerpen tersebut tonggak awal kepenulisan Agus Muharso Thaufik. Cerpen Kalau Goyang Pinggul Berganti dengan Goyang Klewang terinspirasi dari acara disko yang berujung keributan ketika ia berkunjung di Jakarta. Sedangkan, puisi Quraisy-Quraisy Modern mengkritik masyarakat yang berperilaku jahiliah.

Pada 1979, cerpen Sang Ketua menjadi cerpen terbaik versi majalah Puteri Jakarta dengan menjuarai harapan I. Kemudian hari, judul cerpen ini menjadi judul antologi cerpennya. Pengarang ini juga telah menghasilkan empat antologi puisi dengan judul Rindu Melangit, Gaun Hitam Gadis Desa, Elegi Kasmaran, dan Tabur Bunga Buat Fitri. Antologi yang disebut terakhir merupakan persembahan pengarang bagi putri bungsunya, Utin Fitri Khalilullah Tauhidin yang telah meninggal dunia.

Agus Muharso juga menulis genre novel. Tercatat dua novel Di Ujung Kemelut, Kuman di Hati Endarti dan sebuah novelet Hitam Putih Anak Mama diterbitkan atas namanya. Novelet Hitam Putih Anak Mama sebelumnya dimuat di majalah Sarinah. ia juga menulis novel berjudul Wajah-Wajah Bertopeng. Novel Di Ujung Kemelut berkisah tentang kehidupan istri, konflik keluarga, dan perempuan karier.

Tak berhenti di situ, proses kreatif Agus Muharso juga merambah dunia nonfiksi berupa esai, artikel ringan, bahkan kumpulan karikatur. Antologi sketsanya yang pernah dimuat di media massa kampus diberi judul Perkawinan Ir dan Dra. Sementara itu, kumpulan artikel ringan yang pernah dimuat di media massa lokal diberi judul Dengan Membaca Menelusuri Dunia. Ada pula tulisannya yang mengkaji sisi agama dengan judul Mengingat Allah dengan Cara Berzikir. Terakhir yang cukup fenomenal adalah kolaborasinya dengan seorang pelukis sehingga menelurkan Si Bartan, kumpulan karikatur. Keseluruhan karya Agus Muharso Thaufik di atas diterbitkan dan dipasarkan secara mandiri.

Kuliah Agus Muharso Thaufik ke Yogyakarta memberikan pengaruh terhadap kreativitas kepengarangannya. Ia menganggap Yogyakarta adalah kota kedua setelah Pontianak. Cerpennya Sang Ketua pernah menjuarai lomba penulisan sastra yang diadakan oleh majalah Puteri, ketika ia kuliah. Proses kreativitas karya-karyanya melalui penghayatan yang dikonsep, kata kunci, dan kalimat pembuka. Seperti, cerpen Sang Ketua berkonsep tentang mahasiswa-mahasiswa suka berorganisasi yang bertempat tinggal di asrama dan di antara mereka mencintai seorang gadis, berkata kunci cemburu. Menurut pendakuannya, kekuatan karyanya terdapat di dalam dialog.
Agus Muharso Thaufik bekerja sebagai seorang pegawai negeri sipil pada lingkungan Pemerintahan Daerah Kalimantan Barat sebagai Kepala Unit Penelitian BAPPEDA Provinsi Kalimantan Barat. Ia tergolong figur PNS yang aktif menulis, juga aktif dalam bidang teater, tari, musik, dan aktif berorganisasi. Ia pernah menjabat sebagai sekretaris I Pengurus Daerah Keluarga Alumni UGM (Pengda KAGAMA) dan sebagai ketua II Keluarga Pelajar/Mahasiswa Kalimantan Barat (KPMKB) Yogyakarta. Kesibukannya itu digenapi dengan berbagai predikat keprofesian lainnya, seperti wartawan lepas harian Akcaya, Kapuas, dan lain-lain; dosen luar biasa APDN Pontianak; dosen luar biasa FISIPOL Universitas Tanjungpura, dosen luar biasa STKIP Pontianak, dan pengajar pada Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Kalimantan Barat. Selain itu, ia tidak malu menjadi makelar. Baginya usaha apapun sah asalkan halal demi sesuap nasi.

Agus Muharso Thaufik lahir dari pasangan Drs. H. Jimmi Muhammad Ibrahim (almarhum) (Mempawah, 2 Februari 1932) dan Hj. Lilik Harmini (Ponorogo, 21 Juli 1932). Ia kini tinggal di Jalan Sudimoro No. 79 Pontianak beserta istri, Dra. Sri Wahyu Hartiningsih (Semarang, 4 Januari 1956) yang dinikahinya pada 27 April 1980, dan kedua anaknya, Asriah Nurdini Mardiniyyaningsih, S.Si. (Yogyakarta, 11 Mei 1981) dan Muhammad Arif Wahyudin (Purworejo, 17 Februari 1983), beserta anak angkatnya Nurul Fidhea Yeni.

Tinggalkan Komentar